Kamis, 24 Desember 2015

Not Yeah??? xD

Bismillaahirrohmaanirrohiim...
Akhir shofar 1437 H

Aku terpaksa menelan pahitnya ucapan selamat tinggal...
Pahit sekali…
Sampai-sampai manisnya senyum Sang Sabit tak kuasa menetralisir rasa pahit ini :)
Aku terjaga dalam kebingungan,
Satu sisi ditarik oleh mimpi, memaksaku acuhkan segala lalu melenyap dalam senyap.
 Sisi lain ditahan oleh kuatnya keinginan untuk memprotes kenyataan. Yaa…
Memprotes kata “TAPI” yang seolah sopan,
Menjadi sebab pembenaran dari pahit yang katanya kebaikan.
Memprotes kata “TAPI” yang nyatanya lancang,
Mengizinkan kontradiksi terbaca jelas sebagai pembodohan.
Memprotes kata “TAPI” yang terdengar wajar,
Merusak tatanan kalimat  menjadi kecurangan nan menyedihkan.
Mencampur-adukkan yang sudah baik dengan obsesi penuh emosi.
Membuat frame baru dan menghancurkan petak-petak batas diantaranya.
Cih!

Lalu rangkaian eja-ku disadur asal sebagai penyempurna kepahitan.
Yang dahulu diberi, kini ganti melempar keras pada wajah yang masih suguhkan senyum polosnya.
Hey… senyum itu dianggap mengganggu, dianggap menghambat, dianggap benalu, kini.
Kemudian muncul satu permintaan, atau pengusiran?!
Disusul beberapa kata penuh kenang, seolah sengaja ada untuk mengingatkan.
Lalu ditutup ucapan manis penuh kepalsuan.
Lalu ditutup senyuman lebar penuh kesedihan.


Aku terpaksa menelan pahitnya ucapan selamat tinggal...
Pahit sekali…
Sampai-sampai pahitnya obat apapun tak kuasa menyaingi rasa pahit ini :)
Aku tersadar dalam kesedihan,
Satu sisi bertahan pada emosi lalu, memaksanya tetap mengendap sebagai kenang.
Sisi lain menegakkan bahu ku, membiarkan endapan itu terlarut lalu jauh menghanyut.
Yaa. Aku pilih menjadi yang kedua, lalu dengan senyum ku telan bulat-bulat pahit ini :)
Merelakan satu nama hilang meninggalkan barisannya.
Karena “memaksa” bukan cara yang baik untuk tetap menjadi “teman”
 I think we are best friend, Not yeah? xD ” malu rasanya.
Dan tali yang sudah terajut ini aku lanjutkan dengan do’a, berharap ALLAH tak putuskannya.

Yaa. Aku telan pahitnya ucapan selamat tinggal... Pahit sekali…
Sampai saat aku disadarkan oleh ketidakmungkinan, tangis ini kuhentikan.
Sampai saat ALLAH membuatku sadar,
Inilah obat untuknya bagi banyak kesakitan yang aku berikan…


Barokallahufiikum :)

Sabtu, 17 Oktober 2015

#Wejangan [kakak kedua]

Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Dua puluh tiga maret 2015

Itu hawa nafsu im, banyak dzikir, istighfar… ALLOH mah sesuai diri kitanya im, Bisa karena Biasa. Kalo biasa taat ama prinsip Islam, insyaaALLOH jadinya bisa. Gitu juga sebaliknya im… Tidak istiqomah itu penyakitnya orang-orang berilmu, orang-orang yang cerdas. Sekali lengah jatuhlah kita. Yang susah dari orang yang menuntut ilmu itu istiqomah, gak bisa ada yang merebut dari jiwa orang lain im, karena istiqomah itu tergantung sama kemauan diri kita sendiri...




Im pernah ngerasa lama di rumah ngurus segala keperluan Ibu Bapa Adek? Atau liat Teteh aim setiap waktu ngurus anak-anaknya & suaminya? Yang aim rasain apa? Nah coba belajar banyak dari mereka... dari Ibu, ikhlas, istiqomah banget tiap saat ngurusin anak-anaknya, ngurus suaminya, gak pernah bosen gitu-gitu aja tiap hari, tapi gak pernah bilang “Aku bosen jadi Ibu, aku bosen jadi istri”, gak kan? Bapak juga, bolak-balik tiap hari cari uang, usaha supaya anak istri bisa makan, seneng, apa pernah aim denger Babeh bilang “Aku bosen jadi bapak, aku bosen jadi suami” nggak kan im? Nanti aim ngerasain juga kaya gitu im, jadi istri, jadi ibu. Jadi latihan dari sekarang, istiqomah fii sabilillah…

Terus semangat, yang ikhlas, niatnya lurus terus, inget ALLOH, ALLOH, ALLOH, semua untuk ALLOH, karena ALLOH. Ayo sama-sama berusaha terus jadi lebih baik, dan istiqomah sama ilmu baik yang sudah didapat. Karena hukuman orang berilmu itu Kaburomaktan. Na’udzubillah…

Teteh sayang aim, lakukan yang terbaik hari ini, jangan biarin orang-orang yang sayang sama aim kecewa atau sedih :)

Warna Warni ~

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Enam belas februari 2015

Rasa ini warna warni banget wujudnya…
Sering ketawa kaya orang lupa akherat,
Sering juga nangis karena sadar bahwa dunia cuma sebuah 'hina',
Sering takut karena gak pede and kurang syukur,
Sering juga kepedean ampe kadang malah takabur,
Sering seneng karena ALLOH kasih 'rasa' ini sebagai anugerah,
Sering juga nyesel karena gak bisa nge-handle 'rasa' sebagaimana mestinya,
Dalam sikon kaya gini, sungguh cuma Iman yang bisa jadi pegangan…

Rasa ini warna warni banget wujudnya…
Hari ini sibuk mikirin, eh besok kekeuh mau ngelupain,
Kadang optimisnya tinggi banget ampe ke langit,
Tapi tiba tiba down gak ketulungan,
Maksa positif thinking tapi negatifnya juga sering dateng,
Banyak berharap tapi banyak juga mindernya,
Udah mau nyerah tapi hati malah enggan buat pasrah,
Segini doang nih otak manusia bisa nanggepinnya,
Kalo bukan Islam yang jadi pedoman, entahlah apa jadinya…




 Rasa ini warna warni banget wujudnya…
Kalo gak kita kenalin satu-satu, bisa bahaya,
Mood dibolak-balik gak liat cuaca,
Emosi diadu saling tabrak kesana kemari,
Tingkah jadi aneh, ambil sikap juga gak karuan,
Banyak hal yang gak penting bertebaran,
Banyak hal yang gak penting dinomorsatukan,
Kadang langkah malah melenceng dari niat awal yang ada di start sana,
Kadang lupa do’a, kadang lupa kalo kita ada 'Yang Punya',
Satu-satunya cara untuk tetep –keliatan- normal adalah back to Our Creator, ALLOH Subhanahu Wa Ta'ala... 
Kembali mendekat pada Sang Pemberi Rasa, dan 'ngobrol'…


Selamat berbincang dalam keheningan malam yang panjang...
IA memberi kita banyak waktu di sepertiga malam terakhir,
Untuk curhat... 

Hasbunalloh wani'mal wakiil:) :) :)

Sabtu, 04 April 2015

"Ngumpulin Bekel Mbak"

Bismillaahirrohmaanirrohiim. 
22 Januari 2015. Sore itu dalam perjalanan pulang, langkah kaki aku sambi dengan lamunan, memikirkan hendak makan apa sebagai penutup hari. Maklum, sejak jadi anak kost -anyar-, setiap hari pasti muncul pertanyaan yang sama. Pagi, siang, sore, malam, “makan apa yaa?” Memang bosan rasanya mencari 2 sampai 3 jawaban berbeda untuk menjawab 1 pertanyaan yang itu-itu saja setiap hari. Tapi begitulah, pada akhirnya otak, lidah dan perut berkolaborasi menjadi “otomatis-kreatif” untuk dapat menentukan pilihan dalam waktu singkat #keren… Baru melewati belokan pertama, aku lihat gerobak mie ayam berwarna biru sedang parkir jauh di depan sana, rasa-rasanya familiar :v Ternyata benar, aku sering “papasan” dengan gerobak + bapak penjual mie ayam yang satu ini. Setiap kami berjumpa, entah saat aku sedang naik motor, gowes sepeda, atau jalan kaki, bapak penjual mie ayam pasti melihatku lalu tersenyum ramah ala “wong jowo”. Awalnya aku aneh, apa memang si bapak ini orangnya sangat-ramah-sekali ya? Atau mungkin sebenarnya itu ‘kode’ dari si bapak untuk menawarkan mie ayam padaku? #LOL :v Aku pun membalasnya dengan anggukan, senyuman atau kadang dengan sapaan walau hanya sekedar “monggo pak” -karena tidak tau sapaan jawa yang lain- lalu si bapak menjawab “njeh monggo mbak”…

Dan sore ini rupanya si gerobak biru + si bapak sedang parkir di daerah situ. Aku jadi penasaran, reflek aku putuskan bahwa menu makan sore ini adalah mie ayam #yey (y) Walau belum ada persetujuan dari lidah dan perut, tapi otakku sudah keburu mengetok palu tanda keputusan sudah final xD
“Pak, mie ayamnya satu dibungkus ya, gak usah pake kuah pak.”
“Oh iya mbak, keringan ya…” Ku lihat si bapak dengan gesit menyiapkan bumbu di mangkok selagi mie dan sayur direbus. Dan seperti biasa, jiwa kepo ku muncul. Wawancara pun dimulai.
“Bapak tinggalnya dimana pak?” tanya ku sksd.
“Ooh deket kok mbak daerah karangasem itu lho, sebelah situnya itu, sininya ini” (si bapak menyebutkan berbagai arah & tempat yang aku tidak tau dimana) -_-
“Ooh situ tho, yayaya…” kata ku sok paham, padahal cari cepat.
“Kalo mbaknya asli mana?” Si bapak ikutan kepo xD
“Saya aslinya cirebon pak, tapi tinggalnya di daerah masjid B situ.”
“Ooh, saya kalo ashar juga mangkal disitu mbak, pas jam sholat sekalian istirahat.”
“Ooiya pak, pantes kadang liat bapak disitu. Ini bapak kalo pulang jam berapa pak? Ampe malem ya dagangnya?”
“Yaa ini udah mau pulang kok mbak, pokoknya isya harus udah di rumah sama keluarga.”
“Waah sip sip pak.” Kata ku salut.
“Iyaa, jadi kalo dzuhur saya mampir di masjid A itu lho mbak, ashar saya di masjid B, terus ini nanti maghriban dulu di masjid C, baru pulang terus isya nya di rumah… Kan di masjid kadang suka ada ceramah mbak, yaa mampir-mampir… Ngumpulin bekel mbak, buat Mati.” Kata si bapak panjang X lebar X tinggi. Si bapak yang awalnya bicara sambil sibuk meracik dan membungkus mie ayam, entah kenapa saat sampai di kalimat terakhir membalikkan tubuhnya sambil menatapku. “Ngumpulin bekel mbak, buat Mati.” Kata-kata itu yang sampai sekarang masih selalu aku ingat, plus ekspresi wajah si bapak yang ramah, sederhana dan sangat jawa sekali.



Setelah prosesi “beli mie ayam” selesai, aku sempatkan basa-basi sebentar sebagai penutup wawancara dadakan sore itu, lalu pamit pada si bapak yang ternyata biasa dipanggil Pak De oleh orang-orang sekitar. Kali ini ku ucapkan salam karena tau bahwa si bapak muslim, “Salam’alaykum pak…” kata ku sambil mengangguk dan tersenyum.
“Wa-’a-lay-ku-mus-salam mbak” kata si bapak dengan sangat jelas. Tak lupa senyumnya berseri, gerobak biru pun ikut melambai melepas kepulanganku bersama sebungkus mie ayam #Lebay :v

Beberapa langkah setelah meninggalkan gerobak biru, aku habiskan jalanan sambil menunduk, kalimat pamungkas dari si bapak masih terngiang-ngiang di telinga hingga merangsang otak untuk berfikir dan merasuk ke hati untuk merenung. Ya ALLOH, si bapak saja masih ingat “bekel buat mati”, lalu aku??? Malu rasanya, sedih. Padahal beliau lelah mencari nafkah, keliling dengan gerobak andalan walau panas ataupun hujan, tapi rupanya rute dagang sudah ia atur agar saat masuk waktu sholat ia bisa mampir di masjid-masjid yang disebutkannya tadi. Keren si bapak ini. Walau fisiknya sedang sibuk dan lelah mengurus “bekel buat hidup” dengan gerobak mie ayam, tapi rupanya hati dan jiwa tidak lupa memikirkan “bekel buat mati”. Seimbang.

Kita bagaimana? Sudah begitu belum ya? Padahal untuk makan saja kita cuma tinggal “mikir dan milih” mau makan apa, tak perlu kesana-kemari mencari uang untuk beli, diberi tempat tinggal yang nyaman, bisa ibadah wajib dan sunnah dengan tenang, diberi banyak waktu untuk mencari ilmu, tapi seberapa sering sih kita ingat dengan “bekal-bekal” kita baik untuk hidup ataupun untuk mati? Boro-boro memikirkan bekal untuk mati, bahkan untuk hidup yang jelas ada di depan mata saja seringkali kita masih bingung mengambil langkah. Dengan bejibun fasilitas dunia yang ALLOH beri, rupanya kita malah menjadi lemah, belum bisa memilih bekal mana nih yang akan menyelamatkan hidup dan mati kita nanti? Bekal mana nih yang benar-benar bisa kita bawa sekaligus membawa kita ke dalam syurga hingga bertemu ALLOH SWT? Kita malah sibuk menyerobot banyak aksesoris dunia, mengumpulkan sampah, benalu, yang hanya memberatkan langkah kita dan menggiring kita ke neraka. Na’udzubillah! #Amit-amit!

Sore itu, alhamdulillah ALLOH memberikanku ilmu yang tidak mungkin aku dapatkan di dalam kelas kuliah ber-AC mahal dengan suhu 16o celcius. Ilmu yang ALLOH tunjukkan langsung narasumbernya, bermodal jalan kaki di sore hari, ilmu yang sederhana, tapi bermakna dan mengena. Bahwa siapapun dan bagaimanapun diri kita, jangan pernah lupa untuk mengumpulkan bekal untuk akhirat esok, karena Rosululloh SAW bersabda “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling mempersiapkan bekal untuknya, mereka itulah orang-orang yang Cerdas, mereka memboyong kemuliaan dunia dan akhirat.”

Masyaa ALLOH. Mari neng anu geulis, aa anu kasep, mari kita lihat diri kita masing-masing, selama ini dimana sih kata “kematian” kita tempatkan? Dalam do’a? Dalam jiwa? Di otak? Di hati? Di buku harian? Atau malah tidak pernah kita sentuh sama sekali kata yang satu itu karena kita takut? Ayo di ingat… Apapun bentuknya, yang diberi jiwa oleh ALLOH pasti bakal Mati, tak usah ragu. Dan ayo di ingat juga… Bahwa Hidup kita ini hanya untuk Mati, dan Kematian kita hakikatnya untuk Dihidupkan kembali… Maka mari hidup dengan baik dan benar untuk menuju sebaik-baik kematian yang ALLOH ridhoi, dijemput oleh barisan malaikat yang mendo’akan kita sampai ke alam kubur yang lapang dan terang benderang. Dan mari menjemput kematian dengan cara yang mulia, khusnul khotimah, agar kelak kita dihidupkan kembali sebagai makhluk yang ALLOH cintai, dihantar hingga ke syurga, dikumpulkan dengan kekasih-kekasih NYA para mukminin dan mukminat. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.


Yap. Hidup untuk Mati dan Mati untuk Hidup… Baarokallohufiikum :)

Selasa, 17 Februari 2015

Aku = Kisah

Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Sepuluh Februari 2015 ~

Aku bukan hanya puisi, tetapi sebuah kisah
Meninggalkan dan menanti setiap episode, tanpa lelah
Bersuara, tak terlihat
Didengarkan, bahkan tak terjawab
Merindu pada langit yang terburu-buru mengubah warnanya
Menjadi sendu, membawa sejuknya
Tapi dihindari, tapi ditakuti
Tapi tetap hadirkan bahagia dengan caranya sendiri
Meski disambut meriahnya ‘kekosongan’
Meski arti bahagia malah tak diharapkan
Senyum takkan habis meski dihalau tangis

Aku bukan hanya puisi, tetapi sebuah kisah
Yang bercerita tentang masa, duka, bahagia
Yang dihabiskan, juga oleh masa, pada saatnya
Mereka benci apa yang disebut anugerah
Ingin mawar tapi enggan durinya
Ingin hujan tapi enggan petirnya
Ingin menang tapi enggan berjuang
Sama seperti aku yang juga enggan,
Saat masa pada akhirnya harus melahap setiap kenang
Karena bait, tak cukup mampu menjaga mimpi tetap meninggi



Aku bukan hanya puisi, tetapi sebuah kisah
Menjadikan banyak rahasia tersimpan didalamnya
Memisahkannya dalam ruang tangis dan tawa yang takkan saling bersua
Berkali-kali dibuat mengerti bahwa egois benar-benar tak punya tempat disini
Egois itu pangkalnya sesal
Sadarlah saat tuntutan berbalik menyerang hatiku sendiri
Membuat kisah ini ‘hidup’ dengan banyak pelajaran
Membuat puisi ini semakin tak dipahami banyak orang
Terimakasih :)

Aku bukan hanya puisi, tetapi sebuah kisah
Walau hanya untuk diriku sendiri
Sampai saatnya Sang Kawan datang tuk menemani
Akan ku bagi jutaan kisah-kisah tak berarti ini
Hingga kami mati, hingga kami di-hidup-kan kembali
#Jannah

Kamis, 23 Oktober 2014

dari RSDM ~


Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Sudah hampir setengah jam kami duduk di kursi tunggu saat waktu menunjukkan pukul 10.40 WIB. Semakin siang rasa kantuk semakin menjadi, hingga akhirnya seorang lelaki 30-an tahun masuk dan mempersilakan kami duduk di depan mejanya. Ini dia yang kami tunggu, setelah berkali-kali keluar masuk kantor DikLit sejak sebulan lalu, baru hari ini kami bertemu dengannya, Ari Sutejo, ku baca nama dari co-card yang dipakainya. Kami sampaikan maksud kedatangan, kemudian beliau mulai mencari berkas penelitian kami.

Ya, hari itu aku dan bekti kembali ke RSUD Dr. Moewardi untuk mengurus izin penelitian (lagi). Ada dua orang pegawai DikLit yang mengurus izin kami, Dokter Aryo dan Pak Ari ini. Sebelum dibuatkan surat pengantar ke laboratorium, berkas kami di cek kelengkapannya oleh Dokter Aryo. Beliau lelaki yang ramah dan humoris, obrolan kami tidak hanya seputar izin penelitian, tapi juga tentang kuliah, pekerjaan dan sebagainya. Beliau juga memberi beberapa saran untuk kami. Alhamdulillah, bersyukur di awal sudah mendapat asupan semangat yang luar biasa…

Kembali ke meja Pak Ari, tak jauh beda awalnya kami ditanya beberapa hal tentang proposal yang kami ajukan, metode, hasil, data yang dicari, dan sebagainya. Setelah itu beliau basa-basi menanyakan asal daerah kami, berapa lama tinggal di solo, rencana setelah lulus kuliah, sampai……………

PA : “Kalau sudah jadi apoteker nanti, mau kerja di Rumah Sakit atau buka apotek sendiri mba?” tanya nya.
Aku : “Kalo kerja… maunya sih buka apotek sendiri pak” kataku PeDe.
PA : “alasannya?”
Aku: “Hmm… biar gak terikat aturan, sistem, kalo di RS jadi pegawai kan gitu pak, jam kerja diatur, pakaian diatur, gak bebas. Kalo punya apotek sendiri jadi lebih fleksibel jadwalnya apalagi saya perempuan…”
PA : “Oo, selain itu?” tanyanya lagi.
Aku : “Biar bisa buka lapangan kerja juga, sekarang kan sekolah & fakultas farmasi uda banyak banget pak…”
PA : “Ada pertimbangan lain lagi mba?” tanyanya penasaran.
Aku : “Yaa apalagi saya kan perempuan pak, nantinya akan jadi Istri, Ibu, udah punya tanggungjawab sendiri dirumah”
PA : “Alasan terpenting sebenernya yang terakhir itu mba, njenengan kan nanti bakal menikah, bakal jadi Ibu, dan perempuan memang punya tanggung jawab yang besar untuk keluarganya, anak-anaknya. Rosululloh juga kan sudah menjelaskan tentang itu…
Perempuan yang udah jadi sarjana, bukan berarti harus kerja kan mba? Ibu yang sarjana itu jauh lebih baik dari ibu yang gak sarjana, karena punya ilmu lebih untuk ngajarin anak-anaknya nanti. Anak pertama kali belajar kan dari ibunya tho bukan yang lain. Lagipula Ibu Rumah Tangga juga kan profesi mba, bahkan lebih sibuk daripada apoteker di apotek/rumah sakit lho. Kalo pegawai jam kerjanya cuma dari pagi ampe sore, tapi kalo IRT jam kerjanya fulltime mba, dari mata melek sampe mata merem lagi, ya ngurus rumah, suami, anak…” 

Hmm, aku mencerna kata-katanya, rupanya itu inti yang ingin beliau sampaikan, aku meng-iyakan. Sepakat. Bahwa ALLOH mencipta makhluk dengan kodrat yang sudah disesuaikan dengan jenisnya, manusia, jin, syetan, malaikat, hewan, semua punya tugas masing-masing yang akan kacau jadinya bila saling mencampuri urusan yang lain. Begitu pula manusia baik lelaki maupun perempuan, masing-masing sudah punya hak dan kewajiban, tugas mulia yang harus dikerjakan selama tinggal di bumi ALLOH yang sementara ini. Dan jika ditukar, maka dunia akan jadi kacau.




Mengutip kata Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rohimahullah: “ISLAM menetapkan masing-masing dari suami dan istri memiliki kewajiban yang KHUSUS agar keduanya menjalankan perannya masing-masing  sehingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka, serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya seperti mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya, berarti ia telah menyia-nyiakan rumah serta para penghuninya. Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan dalam keluarga baik secara hakiki maupun maknawi.” (Khatharu Musyarakatil Mar’ah li  Rijal fil Maidanil Amal).

Benar bahwa karier utama seorang wanita adalah Ibu Rumah Tangga, meski ruang kerjanya hanya di dalam rumah, tapi dampak & tanggungjawabnya tidak hanya untuk penghuni rumah tersebut tapi juga berpengaruh bagi lingkungan bahkan bagi negeri tempatnya tinggal. Seperti yang dikatakan Hafizh Ibrahim dalam syairnya,Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan, jika anda mempersiapkannya dengan baik, maka anda telah mempersiapkan bangsa yang baik.”

Maha Besar ALLOH yang telah memuliakan makhluk bernama wanita sedemikian rupa. Saat banyak wanita yang khawatir ‘kekurangan’ uang bulanan karena tidak bekerja, tapi segelintir sholihah percaya bahwa ALLOH akan mengalirkan rizkinya lewat kerja keras sang suami mencari nafkah. Saat banyak wanita menganggap bahwa menjadi (hanya) Ibu Rumah Tangga sama dengan pengangguran, tapi para sholihah disana sadar bahwa pahala dan ridho Robb-nya bisa mereka capai dengan (hanya) tinggal dirumah mengurus segala yang menjadi kewajibannya. Mereka bangga menjadi ibu rumah tangga, karena jabatan tertinggi seorang wanita adalah menjadi istri untuk suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya. Iman lah pondasi yang menguatkan keyakinan mereka bahwa aturan ALLOH pasti baik adanya. Karena janji ALLOH adalah PASTI…

Ya, Pak Ari mengingatkan ku tentang ini, kewajiban utama seorang wanita dalam perannya menjadi istri & ibu di masa depan nanti. Setelah pertemuan itu, kami juga sempat berdiskusi tentang aqidah, hijab, pergaulan remaja, dan sebagainya. Alhamdulillah, satu manfaat kembali ALLOH selipkan dalam hari-hari ku yang padat. Terimakasih ALLOH untuk setiap nikmat ‘kesadaran’ yang selalu ENGKAU berikan. Semakin bertambah ilmu, semakin ku sadar betapa bodohnya diri ini. Semakin tau yang benar, semakin diri sadar betapa hidup penuh dengan kesalahan…

RSDM, 18 Agustus 2014
Sampai bertemu lagi, Pak Ari [bijak] :)