Aku berdiri di depan gerbang ungu sebuah tempat konseling psikolog. Melihat papan namanya aku yakin inilah tempatnya. Kemudian aku bawa amplop coklat titipan adikku ke dalam. Disana aku disambut dua orang wanita. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan, kami pun berbincang sebentar.
Tahun 2018 lalu adik laki-lakiku lulus SMA. Waktu itu dia memutuskan tidak langsung melanjutkan kuliah melainkan belajar bahasa inggris di pare. Setahun setelahnya dia mencoba mendaftar kuliah melalui jalur bidikmisi, mengingat orang tuaku yang sudah pensiun dan terbatas dana untuk biaya kuliahnya. Setelah berjuang ke sana ke mari, akhirnya dia lolos. Sayangnya di akhir pengumuman, dia malah ditempatkan di jurusan lain yang bukan menjadi pilihannya. Alasannya kuota jurusan lain sudah penuh. Akhirnya dia dialihkan ke jurusan geografi. Dia bingung saat tau itu, karena dia sama sekali tidak tau-menau tentang geografi. Akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal, dia memutuskan untuk mencoba menjalani kuliah di jurusan geografi.
Beberapa bulan kuliah dia sudah merasa tidak cocok, tidak paham materinya, tidak tertarik tentang geografi. Mencoba bicara pada orang tua tapi tidak dia dapatkan respon yang dia inginkan. Orang tua dan kami kakak-kakaknya meminta ia mencoba bertahan sebentar lagi saja, karena sayang sekali jika beasiswa bidikmisi ini dibatalkan. Berbulan-bulan kemudian adikku berubah. Dia yang awalnya semangat berorganisasi, jadi tidak pernah terlihat aktif lagi di kampus. Kuliah, pulang. Kuliah, pulang. Sikapnya juga berubah lebih dingin, lebih tertutup, tidak ceria, aku yang serumah dengannya merasa canggung saat menghadapinya.
Singkat cerita, adikku bercerita pada kakak pertama bahwa ia sudah tidak sanggup melanjutkan kuliah di geografi. Ternyata selama ini mentalnya sakit, ia sudah konseling dengan beberapa psikolog tanpa sepengetahuan kami. Aku sedih sekali saat mengetahuinya. Tapi upaya membuat orang tua untuk mengerti kondisinya juga tidak mudah. Ada kesenjangan antara anak bungsu lelaki ini dengan orang tuanya. Jadi mau tidak mau harus kami kakak-kakaknya yang menjadi jembatan komunikasi bagi mereka. Adikku ingin berhenti kuliah geografi dan mengundurkan diri dari bidikmisi. Dia ingin mengejar cita-citanya menjadi psikolog. Tentu itu bukan hal yang mudah untuk diterima orang tua dan kami kakak-kakaknya. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan untuk kedepannya. Tapi setelah melihat segala yang terjadi padanya sejak awal kuliah sampai saat ini, aku lebih mendukung dia untuk melakukan apa yang dia mau.
Sakit mental bukanlah hal sepele yang bisa disembuhkan dengan "sholat yang rajin, berdoa ke Allah, ikut kajian". Sakit mental lebih kompleks dari itu. Aku bersyukur dengan tekanan dan trauma yang adikku rasa selama ini, ia masih cukup waras dan masih ingat sholat. Aku mengkhawatirkan masa depannya nanti kalau harus memaksa diri menyelesaikan kuliah geografinya. Ia adalah anak lelaki yang kelak akan menjadi suami, akan menjadi kepala rumah tangga dan bapak dari anak-anaknya. Aku khawatir luka batinnya itu akan berlanjut sampai ia dewasa dan menyusahkan kehidupan berkeluarganya nanti.
Setelah proses panjang yang penuh drama di keluarga, akhirnya adikku mengundurkan diri dari bidikmisi. Ia kemarin sudah mendaftarkan diri secara online ke fakultas psikologi di kampus tempat kuliahnya dan alhamdulillah ia lolos. Karena itu aku diminta dia untuk meminta tanda tangan dari psikolog tempatnya konseling karena dia sedang berada di Cirebon dan belum bisa pulang ke Solo. Meski sudah direstui orang tua untuk menjalani keputusannya, tapi masih banyak yang mengganjal di pikiran orang tua. Apalagi orang tuaku tipe orang tua jaman dulu yang belum kenal ilmu parenting. Banyak hal yang menjadi salah paham dan harus dijelaskan lebih detail secara perlahan. Saat ini adikku sedang memproses berkas-berkas pengunduran dirinya. Aku hanya berharap mentalnya bisa semakin sehat, ia bisa kembali bahagia dengan pilihannya. Ia bisa bertanggungjawab dengan segala resiko dan kewajiban yang menunggunya di depan. Aku berharap hubungan antara kami sebagai anak dengan orang tua semakin membaik. Ibu dan Bapak sehat selalu, dan mengubah mindsetnya yang selama ini banyak keliru. Semoga Allah meridhoi setiap upaya kebaikan dan memudahkan setiap proses perjuangan.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
hanya kumpulan ejaan yang dirangkai tanpa ada keterkaitan. abstrak. ambigu. hidup dalam artinya sendiri. tentang Coretan, yang tak terbaca. tentang Kenyataan, yang tak pernah ada. tentang Do'a. EJAAN -
Selasa, 23 Desember 2025
Hijab
Dulu waktu masih SMP atau SMK, pernah diminta nganterin Teteh pake motor ke rumah Teh Aat, temen kuliahnya. Dulu aku belum pake gamis, khimar panjang, apalagi kaos kaki. Belum ketemu sama hidayah untuk nutup aurat secara syari. Yang penting pake kerudung, menurutku ya udah bener. Walaupun kerudungnya gak nutup dada, walaupun baju atasannya terlalu pendek, walaupun pake celana jeans ketat, ya gak papa yang penting kan udah kerudungan. Walaupun ngeliat Teteh yang pakaiannya udah syari, tapi tetep aja hati belum tergerak. Waktu sampai di rumah Teh Aat kita ngobrol-ngobrol sebentar. Aku emang kenal sama beberapa temen Teteh karena sering nemenin atau anter jemput Teteh ke kampus. Temen-temennya juga sering maen ke rumah jadi emang gak asing sama mereka. Pas mau pulang dan naek ke atas motor, tiba-tiba Teh Aat nyeletuk, "Ya Allah Fey itu si Mia celananya ketat banget sih. Mi, kamu gak risih apa kakinya keliatan kaya gitu?" Waktu itu aku cuma senyum-senyum aja terus pulang ke rumah. Mikirnya ya Teh Aat miris aja ngeliat aku pakaiannya masih kaya gitu, padahal Tetehku udah syari. Mikirnya itu cuma negur biasa aja, jadi nggak aku pikirin banget atau aku gubris gimana-gimana.
Di lain waktu, Bapak pernah ajak pergi berdua. Makan di luar, terus masuk ke toko pakaian. Waktu itu Bapak nyuruh aku milih mau beli apa terserah. Setelah liat-liat dan mikir-mikir, akhirnya aku ambil 1 celana jeans ketat dan 1 baju kalau gak salah. Abis itu Bapak bayar dan kita pulang. Sampai di rumah, aku masukin belanjaan aku itu lewat jendela kamar depan. Gak aku bawa masuk kaya biasa karena takut ketauan Ibu dan diceramahin karena beli celana ketat lagi. Pernah suatu hari waktu aku mau pergi Ibu negur aku, "Mia, pake celana tuh ngetat-ngetat pisan sih. Malu atuh anaknya guru agama masa pahanya kemana-mana diliat orang" kaya biasanya aku gak terlalu nanggepin teguran itu dengan serius. Ya udah tetep juga dipake itu celana-celana ketat. Emang sih ada perasaan malu atau risih sedikit kalo diliat orang-orang, apalagi kalo inget omongan Ibu. Tapi ya karena waktu itu setannya lebih kuat, jadi pede-pede aja. Apalagi temen-temen deket di lingkungan sekolah dan rumah juga masih pada pake jeans ketat. Malah banyak yang belum pake kerudung. Jadi yang keliatan di mataku waktu itu ya aku yang paling ketutup pakaiannya diantara temen-temen lain.
Inget banget waktu SMK aku punya geng namanya Godong isinya 6 orang. Di tengah stressnya sekolah farmasi yang masya Allah banget, kami sering main bareng ke rumah siapa aja giliran, sering juga jalan-jalan random atau makan di luar bareng-bareng. Pokoknya asal kita sama-sama, perkara uang gak jadi masalah. Satu hari kami janjian hari sabtu nanti maen ke mall sepulang sekolah, tapi bawa pakaian ganti dari rumah supaya pulang sekolah bisa langsung ganti baju dan jalan ke mall gak pake seragam. Akhirnya hari sabtu pun datang. Pulang sekolah kami mampir ke rumah salah satu temen yang rumahnya cuma sekian meter dari mall tujuan. Disana kami ganti baju dan jalan kaki ke mall. Sayangnya waktu itu entah kenapa aku gak pake kerudung. Padahal biasanya kalo maen aku selalu kerudungan walaupun pake kaos dan celana yang ketat. Mungkin karena pengaruh temen-temen geng lain yang waktu itu emang belum pada kerudungan. Begitu masuk mall kami cari eskalator untuk naik ke lantai atas dan cari tempat tongkrongan. Tapi sebelum sampai eskalator, tepat di depan pojok busana ada kejutan buat aku waktu itu. Aku papasan sama Bapak dan Ibu yang gak tau kenapa hari itu detik itu bisa ada di dalam mall yang sama. Padahal aku tau kalo Ibu dan Bapak bukan orang yang suka maen atau belanja di mall. Makanya aku shock banget waktu itu karena aku gak izin kalo bawa baju ganti dan pulang sekolah mau ngemall dulu, apalagi gak pake kerudung. Temen-temen aku juga langsung kikuk takut aku dimarahin. Tapi Ibu sama Bapak cuma liat dan diem-diem aja gak ngomong apa-apa. "Im, kamu gak papa tuh ntar dirumah bakal dimarahin gak?" Tanya temen-temenku yang khawatir. Aku sih sok-sokan tenang aja, padahal hati sama otak udah gak karuan.
Sampai di rumah aku udah nyiapin mental banget kalau Ibu & Bapak bakal ceramah panjang lebar. Tapi ternyata, nggak sama sekali. Bapak cuek-cuek aja, dan Ibu dengan suara lembutnya cuma bilang, "Pinter ya anak Ibu pulang sekolah langsung maen gak pulang dulu" disitu omongan Ibu langsung jleb nusuk ke hati. Ibu emang gak marah-marah dan gak bahas aku yang lepas kerudung, tapi dari kata-kata dan ekspresi Ibu itu cukup ngasih tau betapa kecewanya Ibu ke aku. Sejak saat itu setiap pergi keluar aku selalu pake kerudung, walaupun kebawahnya masih belum ketutup dengan sempurna.
Tahun 2011 waktu ngerantau ke Solo untuk kuliah, aku bawa 2 celana jeans ketatku. Sisanya rok dan gamis. Karena fakultasku waktu itu mayoritas mahasiswinya pake rok dan gamis. Bakal aneh banget kalo ada yang pake celana, apalagi ketat pasti udah ditegur dosen. Aku tinggal di asrama yang lingkungannya cukup bagus dalam hal agama. Celana jeans ku gak kepake sampai berbulan-bulan lamanya. Suatu hari aku diajak pergi temenku keluar, aku langsung inget untuk pake celana jeans itu. Mumpung pergi maen dan temenku itu juga pakaiannya belum syari, jadi aku beraniin deh. Keluar kamar asrama dan jalan ke parkiran sambil ngendap-ngendap khawatir ada yang liat, malu rasanya kalo ketauan. Abis itu kami pergi maen dan setelah pulang, aku ngerasa ternyata pake celana jeans udah gak nyaman banget. Kapok aku. Malu rasanya. Akhirnya waktu mudik, jeans-jeans itu aku balikin ke rumah dan gak pernah aku pake lagi. Sekali-kalinya aku pake jeans di Solo dan langsung kapok.
Cara Allah kasih aku hidayah untuk nyempurnain cara berpakaianku bener-bener luar biasa. Dari SMK dulu Allah udah datangin Teh Aat untuk negur aku, tapi masih mental. Allah juga berkali-kali ngingetin aku lewat Ibu, tapi aku belum mau juga berubah. Akhirnya setelah di Solo, ketemu sama temen-temen asrama yang syari, belajar di fakultas yang lingkungannya mendukung banget, disitulah aku sedikit demi sedikit berubah. Belajar lagi tentang pakaian wanita muslim seharusnya kaya gimana, mulai panjangin kerudung, pakai kaos kaki, jahit gamis, dan terus berusaha nyempurnain hijab bahkan sampai sekarang. Semoga Allah selalu bimbing diri ini dan istiqomahkan di jalan-Nya.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Di lain waktu, Bapak pernah ajak pergi berdua. Makan di luar, terus masuk ke toko pakaian. Waktu itu Bapak nyuruh aku milih mau beli apa terserah. Setelah liat-liat dan mikir-mikir, akhirnya aku ambil 1 celana jeans ketat dan 1 baju kalau gak salah. Abis itu Bapak bayar dan kita pulang. Sampai di rumah, aku masukin belanjaan aku itu lewat jendela kamar depan. Gak aku bawa masuk kaya biasa karena takut ketauan Ibu dan diceramahin karena beli celana ketat lagi. Pernah suatu hari waktu aku mau pergi Ibu negur aku, "Mia, pake celana tuh ngetat-ngetat pisan sih. Malu atuh anaknya guru agama masa pahanya kemana-mana diliat orang" kaya biasanya aku gak terlalu nanggepin teguran itu dengan serius. Ya udah tetep juga dipake itu celana-celana ketat. Emang sih ada perasaan malu atau risih sedikit kalo diliat orang-orang, apalagi kalo inget omongan Ibu. Tapi ya karena waktu itu setannya lebih kuat, jadi pede-pede aja. Apalagi temen-temen deket di lingkungan sekolah dan rumah juga masih pada pake jeans ketat. Malah banyak yang belum pake kerudung. Jadi yang keliatan di mataku waktu itu ya aku yang paling ketutup pakaiannya diantara temen-temen lain.
Inget banget waktu SMK aku punya geng namanya Godong isinya 6 orang. Di tengah stressnya sekolah farmasi yang masya Allah banget, kami sering main bareng ke rumah siapa aja giliran, sering juga jalan-jalan random atau makan di luar bareng-bareng. Pokoknya asal kita sama-sama, perkara uang gak jadi masalah. Satu hari kami janjian hari sabtu nanti maen ke mall sepulang sekolah, tapi bawa pakaian ganti dari rumah supaya pulang sekolah bisa langsung ganti baju dan jalan ke mall gak pake seragam. Akhirnya hari sabtu pun datang. Pulang sekolah kami mampir ke rumah salah satu temen yang rumahnya cuma sekian meter dari mall tujuan. Disana kami ganti baju dan jalan kaki ke mall. Sayangnya waktu itu entah kenapa aku gak pake kerudung. Padahal biasanya kalo maen aku selalu kerudungan walaupun pake kaos dan celana yang ketat. Mungkin karena pengaruh temen-temen geng lain yang waktu itu emang belum pada kerudungan. Begitu masuk mall kami cari eskalator untuk naik ke lantai atas dan cari tempat tongkrongan. Tapi sebelum sampai eskalator, tepat di depan pojok busana ada kejutan buat aku waktu itu. Aku papasan sama Bapak dan Ibu yang gak tau kenapa hari itu detik itu bisa ada di dalam mall yang sama. Padahal aku tau kalo Ibu dan Bapak bukan orang yang suka maen atau belanja di mall. Makanya aku shock banget waktu itu karena aku gak izin kalo bawa baju ganti dan pulang sekolah mau ngemall dulu, apalagi gak pake kerudung. Temen-temen aku juga langsung kikuk takut aku dimarahin. Tapi Ibu sama Bapak cuma liat dan diem-diem aja gak ngomong apa-apa. "Im, kamu gak papa tuh ntar dirumah bakal dimarahin gak?" Tanya temen-temenku yang khawatir. Aku sih sok-sokan tenang aja, padahal hati sama otak udah gak karuan.
Sampai di rumah aku udah nyiapin mental banget kalau Ibu & Bapak bakal ceramah panjang lebar. Tapi ternyata, nggak sama sekali. Bapak cuek-cuek aja, dan Ibu dengan suara lembutnya cuma bilang, "Pinter ya anak Ibu pulang sekolah langsung maen gak pulang dulu" disitu omongan Ibu langsung jleb nusuk ke hati. Ibu emang gak marah-marah dan gak bahas aku yang lepas kerudung, tapi dari kata-kata dan ekspresi Ibu itu cukup ngasih tau betapa kecewanya Ibu ke aku. Sejak saat itu setiap pergi keluar aku selalu pake kerudung, walaupun kebawahnya masih belum ketutup dengan sempurna.
Tahun 2011 waktu ngerantau ke Solo untuk kuliah, aku bawa 2 celana jeans ketatku. Sisanya rok dan gamis. Karena fakultasku waktu itu mayoritas mahasiswinya pake rok dan gamis. Bakal aneh banget kalo ada yang pake celana, apalagi ketat pasti udah ditegur dosen. Aku tinggal di asrama yang lingkungannya cukup bagus dalam hal agama. Celana jeans ku gak kepake sampai berbulan-bulan lamanya. Suatu hari aku diajak pergi temenku keluar, aku langsung inget untuk pake celana jeans itu. Mumpung pergi maen dan temenku itu juga pakaiannya belum syari, jadi aku beraniin deh. Keluar kamar asrama dan jalan ke parkiran sambil ngendap-ngendap khawatir ada yang liat, malu rasanya kalo ketauan. Abis itu kami pergi maen dan setelah pulang, aku ngerasa ternyata pake celana jeans udah gak nyaman banget. Kapok aku. Malu rasanya. Akhirnya waktu mudik, jeans-jeans itu aku balikin ke rumah dan gak pernah aku pake lagi. Sekali-kalinya aku pake jeans di Solo dan langsung kapok.
Cara Allah kasih aku hidayah untuk nyempurnain cara berpakaianku bener-bener luar biasa. Dari SMK dulu Allah udah datangin Teh Aat untuk negur aku, tapi masih mental. Allah juga berkali-kali ngingetin aku lewat Ibu, tapi aku belum mau juga berubah. Akhirnya setelah di Solo, ketemu sama temen-temen asrama yang syari, belajar di fakultas yang lingkungannya mendukung banget, disitulah aku sedikit demi sedikit berubah. Belajar lagi tentang pakaian wanita muslim seharusnya kaya gimana, mulai panjangin kerudung, pakai kaos kaki, jahit gamis, dan terus berusaha nyempurnain hijab bahkan sampai sekarang. Semoga Allah selalu bimbing diri ini dan istiqomahkan di jalan-Nya.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Rahimahullah
Kira-kira satu minggu lalu, temanku yang seorang fisioterapi di RS. Moewardi Solo bercerita bahwa Ustadz Mu'inudinillah Basri positif covid-19 dan sedang diisolasi. Beliau diisolasi setelah ditemukan cluster baru di pondok pesantren asuhan beliau. Beberapa pengajar dan santri dinyatakan positif covid. Aku kaget mendengarnya. Tapi do'a terus aku panjatkan untuk kesembuhan beliau dan pasien-pasien covid lain. Di Solo memang angka pertambahan pasien covid sedang meroket. Bahkan di salah satu rumah sakit rujukan provinsi sedang dibangun gedung baru untuk dijadikan bangsal pasien covid, karena bangsal yang ada saat ini belum cukup untuk menampung pasien yang terus bertambah.
Awal sakit, Ustadz Mu'in merasakan demam kemudian disusul sesak napas. Saat di rumah sakit beliau dipasang ventilator untuk membantu melancarkan pernapasannya. Temanku menangani fisioterapi untuk beliau saat itu. Ia mengabarkan bahwa setelah beberapa hari di rumah sakit, kondisi Ustadz Mu'in membaik walaupun masih terpasang ventilator. Sesak napasnya berkurang dan ia lebih lancar berbicara dan bergerak. Meski dalam keadaan sakit, Ustadz Mu'in tetap berdakwah melalui akun facebooknya. Sembari tiduran di kasur pasien, dengan ditutupi selimut rumah sakit, wajahnya yang lemas dengan ventilator, dan juga suaranya yang terbata, Ustadz Mu'in menyampaikan ceramahnya pada para jama'ah yang setia menonton livenya. Ia berbicara sambil menangis, mengingatkan jama'ah tentang berdzikir kepada Allah, pentingnya mentadabburi Al-Qur'an, juga beriman kepada akhirat dan tanda-tanda hari kiamat. Setelah beberapa hari dirawat, salah satu ustadz kawan beliau yang juga positiv covid dinyatakan meninggal dunia. Dengan tegar beliau memposting ucapan belasungkawa dan juga do'a untuk kawannya tersebut. Saat live facebook, seluruh jama'ah hadir di komentar untuk menyemangati dan mendo'akan kesembuhan beliau.
Ustadz Mu'in adalah salah satu ulama kharismatik dan sedang menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Syari'ah Kota Surakarta. Beliau adalah ahli fiqih yang tegas dalam memerangi kebathilan, tapi lembut dalam menyampaikan ilmu dan kebenaran. Beliau salah satu dosen pengajar di kampusku dulu, dan sempat menjadi murobbi suamiku. Sosok beliau sangat tidak asing bagi kami karena seringnya bermajelis dengan beliau. Ingat sekali saat masih kuliah dulu, aku rela setiap hari senin mengendarai motor malam-malam dengan teman akhwatku hanya untuk mengikuti majelis beliau yang cukup jauh tempatnya dari asrama tempat tinggalku. Hampir setiap majelis yang diisi beliau, kami akan datang. Seluruh ummat mencintai Ustadz Mu'in, akhlaknya, ilmunya, dan cara beliau mencintai negeri dan ummat ini. Beliau adalah "Singa dari Surakarta", begitu julukannya.
Tapi Allah jauh lebih mencintai beliau. Di saat zaman sudah mencapai akhirnya, di saat negeri ini penuh dengan fitnah, kepalsuan, kecurangan, kedzaliman, Allah angkat Ustadz Mu'in kembali kehadiratNya. Seakan-akan dunia yang kacau balau ini tidak layak bagi orang-orang sholih seperti beliau. Seakan Allah lebih menginginkan Ustadz Mu'in berada disisiNya. Beristirahat setelah lelahnya berdakwah selama ini, di dunia baru yang damai bersama Rabbnya. Dimana tidak ada keletihan dan kegaduhan di dalamnya.
Innalillahi wa inna ilayhi roji'un. Aku membaca berita tentang meninggalnya engkau wahai guru, dengan air mata yang mengalir karena kecintaanku. Dengan hati yang belum rela ditinggalkan oleh salah satu ulama kharismatik sepertimu. Seolah segala kenangan tentang majelismu kembali berputar di dalam otak. Suaramu yang lantang melawan kedzaliman masih terngiang, lembutnya tawamu saat bercanda masih terbayang, semua ilmu dan kebaikan yang engkau lakukan telah menjadi amal jariyah yang menerangi kuburmu. Allah mencintai engkau lebih dari kecintaan ummat kepadamu. Insya Allah husnul khatimah dan surga menantimu, wahai Singa dari Surakarta.
Selamat jalan, do'a kami mengantar engkau pada kedamaian abadi di sisi Illahi...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Awal sakit, Ustadz Mu'in merasakan demam kemudian disusul sesak napas. Saat di rumah sakit beliau dipasang ventilator untuk membantu melancarkan pernapasannya. Temanku menangani fisioterapi untuk beliau saat itu. Ia mengabarkan bahwa setelah beberapa hari di rumah sakit, kondisi Ustadz Mu'in membaik walaupun masih terpasang ventilator. Sesak napasnya berkurang dan ia lebih lancar berbicara dan bergerak. Meski dalam keadaan sakit, Ustadz Mu'in tetap berdakwah melalui akun facebooknya. Sembari tiduran di kasur pasien, dengan ditutupi selimut rumah sakit, wajahnya yang lemas dengan ventilator, dan juga suaranya yang terbata, Ustadz Mu'in menyampaikan ceramahnya pada para jama'ah yang setia menonton livenya. Ia berbicara sambil menangis, mengingatkan jama'ah tentang berdzikir kepada Allah, pentingnya mentadabburi Al-Qur'an, juga beriman kepada akhirat dan tanda-tanda hari kiamat. Setelah beberapa hari dirawat, salah satu ustadz kawan beliau yang juga positiv covid dinyatakan meninggal dunia. Dengan tegar beliau memposting ucapan belasungkawa dan juga do'a untuk kawannya tersebut. Saat live facebook, seluruh jama'ah hadir di komentar untuk menyemangati dan mendo'akan kesembuhan beliau.
Ustadz Mu'in adalah salah satu ulama kharismatik dan sedang menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Syari'ah Kota Surakarta. Beliau adalah ahli fiqih yang tegas dalam memerangi kebathilan, tapi lembut dalam menyampaikan ilmu dan kebenaran. Beliau salah satu dosen pengajar di kampusku dulu, dan sempat menjadi murobbi suamiku. Sosok beliau sangat tidak asing bagi kami karena seringnya bermajelis dengan beliau. Ingat sekali saat masih kuliah dulu, aku rela setiap hari senin mengendarai motor malam-malam dengan teman akhwatku hanya untuk mengikuti majelis beliau yang cukup jauh tempatnya dari asrama tempat tinggalku. Hampir setiap majelis yang diisi beliau, kami akan datang. Seluruh ummat mencintai Ustadz Mu'in, akhlaknya, ilmunya, dan cara beliau mencintai negeri dan ummat ini. Beliau adalah "Singa dari Surakarta", begitu julukannya.
Tapi Allah jauh lebih mencintai beliau. Di saat zaman sudah mencapai akhirnya, di saat negeri ini penuh dengan fitnah, kepalsuan, kecurangan, kedzaliman, Allah angkat Ustadz Mu'in kembali kehadiratNya. Seakan-akan dunia yang kacau balau ini tidak layak bagi orang-orang sholih seperti beliau. Seakan Allah lebih menginginkan Ustadz Mu'in berada disisiNya. Beristirahat setelah lelahnya berdakwah selama ini, di dunia baru yang damai bersama Rabbnya. Dimana tidak ada keletihan dan kegaduhan di dalamnya.
Innalillahi wa inna ilayhi roji'un. Aku membaca berita tentang meninggalnya engkau wahai guru, dengan air mata yang mengalir karena kecintaanku. Dengan hati yang belum rela ditinggalkan oleh salah satu ulama kharismatik sepertimu. Seolah segala kenangan tentang majelismu kembali berputar di dalam otak. Suaramu yang lantang melawan kedzaliman masih terngiang, lembutnya tawamu saat bercanda masih terbayang, semua ilmu dan kebaikan yang engkau lakukan telah menjadi amal jariyah yang menerangi kuburmu. Allah mencintai engkau lebih dari kecintaan ummat kepadamu. Insya Allah husnul khatimah dan surga menantimu, wahai Singa dari Surakarta.
Selamat jalan, do'a kami mengantar engkau pada kedamaian abadi di sisi Illahi...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Nulisyuk
Awal tau @nulisyuk lupa banget darimana dan kapan. Yang pasti baru-baru ini. Waktu itu sempet ngajak Teteh ikutan kelas nulisnya. Tapi pas tau kalo berbayar, langsung mundur gak jadi daftar. Karena waktu itu mikirnya, aduh sayang 75.000 buat kelas nulis yang "cuma" dapet 2x materi doang, sisanya disuruh nulis selama sebulan. Di akun sebelah juga ada kalo "cuma" challenge nulis sebulan. Gitulah manusia macam saya ini, belum tau isinya tapi udah menilai ini dan itu.
Akhirnya di satu hari @nulisyuk ngadain challenge nulis buku antologi dengan tema Menabung Cinta untuk Orang Tua. Aku di tag Teteh dan diajak buat ikutan, tapi waktu itu buntu ide gak tau mau nulis apa. Walopun kalo dipaksa sebenernya bisa-bisa aja. Akhirnya cuma Teteh yang ikutan dan qadarullah tulisannya lolos! Wah keren juga Teteh bisa lolos. Challenge nulis selanjutnya ngangkat tema tentang pasangan. Setelah liat tulisan Teteh yang lolos, hati ini jadi kepacu juga buat ikutan. Suamipun dukung banget sampe minjemin komputer dan nungguin nulis walopun harus begadang. Dan gak sia-sia, ternyata tulisan yang apa adanya itu lolos. Waw jadi makin semangat banget nih buat nulis.
Setelah makin sering liat postingan-postingan @nulisyuk, komentar-komentar followersnya, juga postingan Teh @jeeluvina, akhirnya malah penasaran untuk ikutan kelas nulisnya. Langsung daftar saat itu juga setelah minta ijin sama suami. Dan materi yang sebelumnya aku bilang "cuma", ternyata masya Allah seru dan manfaat banget. Teh @jeeluvina nyampein materi dengan cara yang asik, temen-temen peserta pun kasih pertanyaan yang bagus-bagus. Setelah materi selesai, mulailah tantangan nulis 30 hari. Dan yang sebelumnya aku bilang "cuma", ternyata jauh lebih seru dari challenge nulis sebulan yang diadain akun sebelah. Kenapa lebih seru? Karena 1. Kita bebas nulis apa aja semau kita, dengan cara apapun, format apapun yang penting masih sesuai dengan aturan yang ada. 2. Ditentuin waktu start nulis dan waktu untuk submit tulisan. Ini salah satu yang bikin kita jadi makin kreatif dan harus bisa mikir dengan cepat. Belum kalo liat temen-temen peserta yang semangat banget submit tulisan jam 06.00 teng! Wah rasanya semangat makin membara. 3. Kita peserta dikumpulin di satu grup yang isi obrolan dan bahasannya gak kalah seru sama tantangan nulisnya. Kenapa? Karena disana banyak penulis hebat, bahkan penulis yang udah beberapa kali cetak tulisannya sendiri. Disana juga banyak cerita tentang struggle masing-masing peserta selama ngikutin challenge ini, yang bikin makin kagum karena di tengah segala rintangannya, mereka masih bisa bikin 1 tulisan setiap hari. Di grup itu juga banyak banget saran, motivasi, pemacu semangat dari kakak-kakak yang udah senior dalam dunia tulis-menulis. Bener-bener gak ngelewatin satupun chat yang masuk sejak kelas dimulai.
Di awal kelas dimulai sempet tergiur sama reward yang dikasih sama tim @nulisyuk untuk pemenang challenge ini, dan bertekad untuk jadi pemenang dan mau gak mau harus selalu submit tulisan jam 06.00 teng setiap harinya. Tapi ternyata tekad itu gak sejalan sama keadaan yang ada. Di hari kedua aja udah telat submit tulisan sampe jam 08.00 pagi baru dikirim. Haha dasar manusia. Sejak itu malah jadi down, yah gak jadi deh dapet reward. Gak tau kenapa bisa secetek ini pikirannya. Mungkin waktu itu sedang banyak setan di dalem otak. Haha. Akhirnya sejak saat itu coba menata niat lagi, ditambah baca-baca saran dan motivasi dari peserta nulis lain. Akhirnya tekad dan semangat kembali kebakar, tapi kali ini beda tujuan, bukan untuk jadi pemenang tantangan dan dapet ini atau itu. Tapi yang paling penting adalah menang dari diri kita sendiri, menang ngelawan rasa males setiap mau nulis, menang ngelawan alesan-alesan yang ada di kepala yang bikin ide buntu. Yang penting bisa membentuk kebiasaan baik dalam hal nulis, bisa lebih ekspresif dan ngembangin banyak ide nulis, juga bisa dapet lebih banyak ilmu tentang kepenulisan. Urusan menang/kalah ya itu cuma bonus. Istilah orang jawa mah "bejo-bejonan".
Oya salah satu yang paling kerasa waktu ikut tantangan nulis ini adalah, aku bisa nulis banyak hal yang sebelumnya gak bisa ketulis. Biasanya aku nulis di instagram dan tulisan-tulisan yang ada bener-bener disaring, ide dan cerita yang disajikan sangat terbatas untuk bisa dinikmati banyak orang. Tapi disini aku bisa tulis semuanya. Apapun itu. Gak khawatir akan dinilai bagaimanapun sama orang lain. Bener apa yang dibilang Teh @jeeluvina di materi kemaren, juga yang temen-temen peserta ceritain pengalaman mereka di grup, bahwa nulis bisa jadi salah satu self healing untuk penulisnya. Wah lega banget sih masya Allah. Alhamdulillah.
Dan akhirnya sampai ke hari ini dimana udah 12 hari sebelumnya aku rutin nulis. Tulisan yang selalu fresh dengan tema-tema random tergantung ide yang numpuk di kepala. Kadang apa yang udah diniatin malem hari itu berbeda sama apa yang akhirnya kita tulis di pagi hari. Bener-bener serandom itu. Tapi selama proses nulisnya seneng banget, gak ada beban, dan jadi makin belajar gimana caranya ngembangin ide dan tentunya ngembangin kalimat supaya kata yang didapet lebih banyak. Haha. Tetep juga yaa ngoyo untuk dapet banyak kata. Gak papa sekalian ngelatih diri.
Baru banget tadi malem peserta nulis sharing banyak hal yang manfaat di grup, dan dari sharing-sharing mereka itu ngasih inspirasi juga ide untuk nulis pagi ini. Gak nyangka bisa nuangin banyak hal dan jadi tulisan sebanyak ini. Semoga bisa terus istiqomah sampe hari terakhir tantangan, dan tentunya selalu lebih baik di setiap harinya. Kalo kaya gini sih jadinya ketagihan untuk ikut kelas lagi. Harga 75.000 jadi kerasa gak seberapa dengan banyak manfaat dan keseruan yang didapet selama ikutin materi dan tantangannya. Terharu banget!
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Akhirnya di satu hari @nulisyuk ngadain challenge nulis buku antologi dengan tema Menabung Cinta untuk Orang Tua. Aku di tag Teteh dan diajak buat ikutan, tapi waktu itu buntu ide gak tau mau nulis apa. Walopun kalo dipaksa sebenernya bisa-bisa aja. Akhirnya cuma Teteh yang ikutan dan qadarullah tulisannya lolos! Wah keren juga Teteh bisa lolos. Challenge nulis selanjutnya ngangkat tema tentang pasangan. Setelah liat tulisan Teteh yang lolos, hati ini jadi kepacu juga buat ikutan. Suamipun dukung banget sampe minjemin komputer dan nungguin nulis walopun harus begadang. Dan gak sia-sia, ternyata tulisan yang apa adanya itu lolos. Waw jadi makin semangat banget nih buat nulis.
Setelah makin sering liat postingan-postingan @nulisyuk, komentar-komentar followersnya, juga postingan Teh @jeeluvina, akhirnya malah penasaran untuk ikutan kelas nulisnya. Langsung daftar saat itu juga setelah minta ijin sama suami. Dan materi yang sebelumnya aku bilang "cuma", ternyata masya Allah seru dan manfaat banget. Teh @jeeluvina nyampein materi dengan cara yang asik, temen-temen peserta pun kasih pertanyaan yang bagus-bagus. Setelah materi selesai, mulailah tantangan nulis 30 hari. Dan yang sebelumnya aku bilang "cuma", ternyata jauh lebih seru dari challenge nulis sebulan yang diadain akun sebelah. Kenapa lebih seru? Karena 1. Kita bebas nulis apa aja semau kita, dengan cara apapun, format apapun yang penting masih sesuai dengan aturan yang ada. 2. Ditentuin waktu start nulis dan waktu untuk submit tulisan. Ini salah satu yang bikin kita jadi makin kreatif dan harus bisa mikir dengan cepat. Belum kalo liat temen-temen peserta yang semangat banget submit tulisan jam 06.00 teng! Wah rasanya semangat makin membara. 3. Kita peserta dikumpulin di satu grup yang isi obrolan dan bahasannya gak kalah seru sama tantangan nulisnya. Kenapa? Karena disana banyak penulis hebat, bahkan penulis yang udah beberapa kali cetak tulisannya sendiri. Disana juga banyak cerita tentang struggle masing-masing peserta selama ngikutin challenge ini, yang bikin makin kagum karena di tengah segala rintangannya, mereka masih bisa bikin 1 tulisan setiap hari. Di grup itu juga banyak banget saran, motivasi, pemacu semangat dari kakak-kakak yang udah senior dalam dunia tulis-menulis. Bener-bener gak ngelewatin satupun chat yang masuk sejak kelas dimulai.
Di awal kelas dimulai sempet tergiur sama reward yang dikasih sama tim @nulisyuk untuk pemenang challenge ini, dan bertekad untuk jadi pemenang dan mau gak mau harus selalu submit tulisan jam 06.00 teng setiap harinya. Tapi ternyata tekad itu gak sejalan sama keadaan yang ada. Di hari kedua aja udah telat submit tulisan sampe jam 08.00 pagi baru dikirim. Haha dasar manusia. Sejak itu malah jadi down, yah gak jadi deh dapet reward. Gak tau kenapa bisa secetek ini pikirannya. Mungkin waktu itu sedang banyak setan di dalem otak. Haha. Akhirnya sejak saat itu coba menata niat lagi, ditambah baca-baca saran dan motivasi dari peserta nulis lain. Akhirnya tekad dan semangat kembali kebakar, tapi kali ini beda tujuan, bukan untuk jadi pemenang tantangan dan dapet ini atau itu. Tapi yang paling penting adalah menang dari diri kita sendiri, menang ngelawan rasa males setiap mau nulis, menang ngelawan alesan-alesan yang ada di kepala yang bikin ide buntu. Yang penting bisa membentuk kebiasaan baik dalam hal nulis, bisa lebih ekspresif dan ngembangin banyak ide nulis, juga bisa dapet lebih banyak ilmu tentang kepenulisan. Urusan menang/kalah ya itu cuma bonus. Istilah orang jawa mah "bejo-bejonan".
Oya salah satu yang paling kerasa waktu ikut tantangan nulis ini adalah, aku bisa nulis banyak hal yang sebelumnya gak bisa ketulis. Biasanya aku nulis di instagram dan tulisan-tulisan yang ada bener-bener disaring, ide dan cerita yang disajikan sangat terbatas untuk bisa dinikmati banyak orang. Tapi disini aku bisa tulis semuanya. Apapun itu. Gak khawatir akan dinilai bagaimanapun sama orang lain. Bener apa yang dibilang Teh @jeeluvina di materi kemaren, juga yang temen-temen peserta ceritain pengalaman mereka di grup, bahwa nulis bisa jadi salah satu self healing untuk penulisnya. Wah lega banget sih masya Allah. Alhamdulillah.
Dan akhirnya sampai ke hari ini dimana udah 12 hari sebelumnya aku rutin nulis. Tulisan yang selalu fresh dengan tema-tema random tergantung ide yang numpuk di kepala. Kadang apa yang udah diniatin malem hari itu berbeda sama apa yang akhirnya kita tulis di pagi hari. Bener-bener serandom itu. Tapi selama proses nulisnya seneng banget, gak ada beban, dan jadi makin belajar gimana caranya ngembangin ide dan tentunya ngembangin kalimat supaya kata yang didapet lebih banyak. Haha. Tetep juga yaa ngoyo untuk dapet banyak kata. Gak papa sekalian ngelatih diri.
Baru banget tadi malem peserta nulis sharing banyak hal yang manfaat di grup, dan dari sharing-sharing mereka itu ngasih inspirasi juga ide untuk nulis pagi ini. Gak nyangka bisa nuangin banyak hal dan jadi tulisan sebanyak ini. Semoga bisa terus istiqomah sampe hari terakhir tantangan, dan tentunya selalu lebih baik di setiap harinya. Kalo kaya gini sih jadinya ketagihan untuk ikut kelas lagi. Harga 75.000 jadi kerasa gak seberapa dengan banyak manfaat dan keseruan yang didapet selama ikutin materi dan tantangannya. Terharu banget!
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Pandemi
Tahun 2020 rupanya membawa "kejutan" pandemi bagi seluruh manusia di dunia ini. Banyak hal dan rencana besar yang sudah disiapkan untuk dilaksanakan tahun ini, tapi harus batal karena situasi tidak memungkinkan. Perlahan tapi pasti negeri ini pun terpapar virus dan mengharuskan masyarakatnya melakukan banyak pembatasan. Pembatasan keluar rumah, pembatasan bertemu dengan banyak orang, pembatasan mudik ke rumah orang tua, dan pembatasan-pembatasan lain yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Pandemi ini juga membentuk banyak kebiasaan baru bagi masyarakat. Kebiasaan memakai masker kemanapun dan kapanpun mereka pergi, kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan hidup sehat agar imun tubuh kuat, juga kebiasaan untuk bisa produktif dan kreatif meski harus di rumah saja.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan mengalami tahun-tahun seperti ini. Semuanya serba berbeda dan asing, manusia harus banyak melakukan pemakluman dan penyesuaian dalam banyak aspek kehidupan. Bekerja dari rumah, sekolah via online, lebih sering memasak sendiri, sholat ied hanya di depan rumah bersama tetangga, tidak ada mudik, dan tentunya hal yang paling terasa adalah masalah ekonomi. Dari segi ekonomi terlihat bahwa pandemi ini menjadi cobaan bagi seluruh kalangan manusia tanpa pandang bulu. Pebisnis besar harus menghentikan eksport import yang berdampak pada laju perdagangan mereka, pedagang kecil bingung menjajakan dagangannya pada siapa karena semua orang dihimbau untuk di rumah saja, pegawai harus repot-repot bekerja dari rumah dan beberapa harus merelakan gajinya dipotong demi keberlanjutan perusahaannya, buruh banyak yang menjadi korban PHK dan kelimpungan mencari pekerjaan baru.
Pandemi ini menjadi ujian dan cobaan bagi seluruh umat manusia di belahan bumi manapun. Kebebasan menjadi terhambat, produktivitas juga terbatas, manusia dipaksa untuk menjadi sekreatif mungkin demi bisa tetap hidup dan menghidupi. Demi bisa tetap bahagia dan membahagiakan orang lain. Hingga tidak terasa pandemi hampir menghabiskan seluruh tahun 2020. Prediksi-prediksi awal bahwa pandemi akan berakhir di tengah tahun kemarin menjadi sangat mustahil karena angka dan penyebaran virus yang terus meningkat. Begitu pula saat disebutkan akhir tahun segalanya akan mulai normal, ternyata hanya sekedar angan. Pekan ini saja persentasenya di negeri ini malah makin tinggi dibanding pekan sebelumnya, dimana Jakarta dan Jawa Tengah menjadi penyumbang pasien terbanyak, menyebabkan beberapa rumah sakit rujukan kembali kelimpungan. Banyak kluster-kluster baru yang bermunculan seperti kluster pondok, pasar hingga perkantoran, yang mengharuskan rumah sakit untuk menambah bangsal isolasi. Beberapa rumah sakit yang terbatas bangunan dan ruangan akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dan menyewa hotel atau gedung-gedung tak terpakai di kota tersebut. Seorang teman tenaga medis yang juga harus masuk ke ruang isolasi untuk menterapi pasien bercerita, bahwa ada wacana dari rumah sakit tempatnya bekerja untuk menurunkan tipe APD yang mereka gunakan. Yang tentunya semakin memperbesar kemungkinan mereka untuk terpapar. Padahal rumah sakit tempatnya bekerja adalah rumah sakit rujukan provinsi.
Hari ini kita memulai hari baru di bulan desember. Tentunya banyak do'a dan harapan kita untuk 30 hari terakhir di tahun 2020. Semoga pandemi ini cepat berakhir. Semoga segala keadaan lekas membaik. Semoga kebebasan dan kebahagiaan kembali menghampiri kita semua. Dan yang terpenting, semoga Allah meridhoi setiap usaha kita dalam mengurangi angka pasien positif di negeri ini. Semua yang datang dari Allah pasti ada hikmah dibaliknya, yang mungkin saat ini belum juga kita sadari, tapi setelah pandemi ini berakhir, kita akan sadar bahwa Allah menempa kita menjadi manusia baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Terus bersabar, bersyukur, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi di mata Allah.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan mengalami tahun-tahun seperti ini. Semuanya serba berbeda dan asing, manusia harus banyak melakukan pemakluman dan penyesuaian dalam banyak aspek kehidupan. Bekerja dari rumah, sekolah via online, lebih sering memasak sendiri, sholat ied hanya di depan rumah bersama tetangga, tidak ada mudik, dan tentunya hal yang paling terasa adalah masalah ekonomi. Dari segi ekonomi terlihat bahwa pandemi ini menjadi cobaan bagi seluruh kalangan manusia tanpa pandang bulu. Pebisnis besar harus menghentikan eksport import yang berdampak pada laju perdagangan mereka, pedagang kecil bingung menjajakan dagangannya pada siapa karena semua orang dihimbau untuk di rumah saja, pegawai harus repot-repot bekerja dari rumah dan beberapa harus merelakan gajinya dipotong demi keberlanjutan perusahaannya, buruh banyak yang menjadi korban PHK dan kelimpungan mencari pekerjaan baru.
Pandemi ini menjadi ujian dan cobaan bagi seluruh umat manusia di belahan bumi manapun. Kebebasan menjadi terhambat, produktivitas juga terbatas, manusia dipaksa untuk menjadi sekreatif mungkin demi bisa tetap hidup dan menghidupi. Demi bisa tetap bahagia dan membahagiakan orang lain. Hingga tidak terasa pandemi hampir menghabiskan seluruh tahun 2020. Prediksi-prediksi awal bahwa pandemi akan berakhir di tengah tahun kemarin menjadi sangat mustahil karena angka dan penyebaran virus yang terus meningkat. Begitu pula saat disebutkan akhir tahun segalanya akan mulai normal, ternyata hanya sekedar angan. Pekan ini saja persentasenya di negeri ini malah makin tinggi dibanding pekan sebelumnya, dimana Jakarta dan Jawa Tengah menjadi penyumbang pasien terbanyak, menyebabkan beberapa rumah sakit rujukan kembali kelimpungan. Banyak kluster-kluster baru yang bermunculan seperti kluster pondok, pasar hingga perkantoran, yang mengharuskan rumah sakit untuk menambah bangsal isolasi. Beberapa rumah sakit yang terbatas bangunan dan ruangan akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dan menyewa hotel atau gedung-gedung tak terpakai di kota tersebut. Seorang teman tenaga medis yang juga harus masuk ke ruang isolasi untuk menterapi pasien bercerita, bahwa ada wacana dari rumah sakit tempatnya bekerja untuk menurunkan tipe APD yang mereka gunakan. Yang tentunya semakin memperbesar kemungkinan mereka untuk terpapar. Padahal rumah sakit tempatnya bekerja adalah rumah sakit rujukan provinsi.
Hari ini kita memulai hari baru di bulan desember. Tentunya banyak do'a dan harapan kita untuk 30 hari terakhir di tahun 2020. Semoga pandemi ini cepat berakhir. Semoga segala keadaan lekas membaik. Semoga kebebasan dan kebahagiaan kembali menghampiri kita semua. Dan yang terpenting, semoga Allah meridhoi setiap usaha kita dalam mengurangi angka pasien positif di negeri ini. Semua yang datang dari Allah pasti ada hikmah dibaliknya, yang mungkin saat ini belum juga kita sadari, tapi setelah pandemi ini berakhir, kita akan sadar bahwa Allah menempa kita menjadi manusia baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Terus bersabar, bersyukur, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi di mata Allah.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Pendam
Malam ini rasanya terlalu sendu.
Entahlah...
Aku merasakan banyak ketidaknyamanan dalam hati dan pikiranku, yang pada akhirnya hanya bisa aku pendam seharian tadi.
Aku ingin ini dan itu tapi tak berani bersuara.
Aku ingin berpendapat ini dan itu tapi tak kuasa mengungkap.
Aku ingin menyela banyak hal tapi tak sanggup aku lakukan.
Dan semua ini bukan hanya baru sekarang aku rasakan, tapi sudah bertahun-tahun lamanya.
Akupun tidak mengerti kenapa memendam menjadi pilihan favorit.
Aku akan berubah menjadi sosok pendiam yang tidak menyenangkan.
Menyibukkan diri sendiri dengan menjauh dari orang lain.
Dikerubuti banyak hal yang berjejal di dalam otak, tak kuasa diaplikasikan dalam nyata.
Menunggu bom waktu yang akan meledakkan mereka pada akhirnya, hingga semua itu tercerai-berai menjadi linangan air mata.
Aku menyudutkan diri di dalam kamar, menarik selimut hingga sebatas dagu, memakai headset dan memutar acak lagu-lagu di spotify.
Cukup begitu saja rasanya aku sudah berada di tempat dan suasana berbeda.
Apa karena aku seorang introvert?
Atau karena genetik turunan dari Ibu yang juga seorang pemendam dan suka menangis?
Atau karena diriku selama ini yang sudah dibentuk oleh pengasuhan?
Ah. Memendam memang memberi nyaman, tapi rupanya ada sebalik rasa yang protes karena diri tidak melakukan apa yang seharusnya.
Ya, harusnya kan aku mau repot-repot bersuara tentang apa yang aku inginkan, meski pada akhirnya aku harus menerima pilihan asing yang lebih orang lain suka.
Suaraku sia-sia.
Harusnya kan aku mau repot-repot memberi pendapat pada keberlangsungan hidup ini, meski pada akhirnya aku dianggap tidak mengerti apa-apa.
Pendapatku tak dianggap.
Harusnya kan aku mau susah payah menyela segala hal yang keliru, meski pada akhirnya aku tidak pernah dipercaya.
Aku yang disalahkan.
Aku tidak merasa bahwa memendam adalah selalu benar.
Aku juga ingin seperti orang-orang yang dengan sangat mudah bisa menumpahkan perasaan, tanpa takut dibuat trauma tentunya.
Mungkin selama ini aku hanya kapok, karena terlalu sering disikapi dengan tidak menyenangkan.
Akhirnya memendam menjadi pilihan lagi dan lagi...
Aku terlelap dengan mata sembab.
Sudah berkurang apa-apa yang mengganjal dalam otak, meski sedikit sekali.
Berharap esok aku tidak lagi seperti ini...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Entahlah...
Aku merasakan banyak ketidaknyamanan dalam hati dan pikiranku, yang pada akhirnya hanya bisa aku pendam seharian tadi.
Aku ingin ini dan itu tapi tak berani bersuara.
Aku ingin berpendapat ini dan itu tapi tak kuasa mengungkap.
Aku ingin menyela banyak hal tapi tak sanggup aku lakukan.
Dan semua ini bukan hanya baru sekarang aku rasakan, tapi sudah bertahun-tahun lamanya.
Akupun tidak mengerti kenapa memendam menjadi pilihan favorit.
Aku akan berubah menjadi sosok pendiam yang tidak menyenangkan.
Menyibukkan diri sendiri dengan menjauh dari orang lain.
Dikerubuti banyak hal yang berjejal di dalam otak, tak kuasa diaplikasikan dalam nyata.
Menunggu bom waktu yang akan meledakkan mereka pada akhirnya, hingga semua itu tercerai-berai menjadi linangan air mata.
Aku menyudutkan diri di dalam kamar, menarik selimut hingga sebatas dagu, memakai headset dan memutar acak lagu-lagu di spotify.
Cukup begitu saja rasanya aku sudah berada di tempat dan suasana berbeda.
Apa karena aku seorang introvert?
Atau karena genetik turunan dari Ibu yang juga seorang pemendam dan suka menangis?
Atau karena diriku selama ini yang sudah dibentuk oleh pengasuhan?
Ah. Memendam memang memberi nyaman, tapi rupanya ada sebalik rasa yang protes karena diri tidak melakukan apa yang seharusnya.
Ya, harusnya kan aku mau repot-repot bersuara tentang apa yang aku inginkan, meski pada akhirnya aku harus menerima pilihan asing yang lebih orang lain suka.
Suaraku sia-sia.
Harusnya kan aku mau repot-repot memberi pendapat pada keberlangsungan hidup ini, meski pada akhirnya aku dianggap tidak mengerti apa-apa.
Pendapatku tak dianggap.
Harusnya kan aku mau susah payah menyela segala hal yang keliru, meski pada akhirnya aku tidak pernah dipercaya.
Aku yang disalahkan.
Aku tidak merasa bahwa memendam adalah selalu benar.
Aku juga ingin seperti orang-orang yang dengan sangat mudah bisa menumpahkan perasaan, tanpa takut dibuat trauma tentunya.
Mungkin selama ini aku hanya kapok, karena terlalu sering disikapi dengan tidak menyenangkan.
Akhirnya memendam menjadi pilihan lagi dan lagi...
Aku terlelap dengan mata sembab.
Sudah berkurang apa-apa yang mengganjal dalam otak, meski sedikit sekali.
Berharap esok aku tidak lagi seperti ini...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Solo = Rumah
Awal tahun 2011.
Waktu lagi asik main warnet, buka-buka sosial media pada jamannya, tiba-tiba satu chat masuk dari temen sekolah yang gak akrab-akrab banget.
"Im, kamu lanjut kemana? Kuliah apa kerja?" Tanya Hana, mantan sekretaris waktu aku jadi ketua murid di kelas 11.
"Belum tau Na, maunya sih kuliah. Ini masih nyari-nyari" jawabku yang emang masih bingung mau kuliah dimana.
"Sini im ke Solo aja, aku lanjut di solo udah keterima..di UMS" Waduh Solo jauh banget, kesana juga belum pernah, pikirku.
"Wah selamat ya Na... coba aku liat-liat dulu tentang UMS, soalnya aku belum tau Na."
Aku buka tab baru, dan langsung ngetik: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Setelah tau sedikit banyak tentang UMS, sampe rumah aku cerita ke Ibu Bapak dan ngajuin keinginan untuk lanjut kuliah disana. Tapi mereka gak setuju.
"Aduh jauh banget. Nanti susah pulangnya, nanti kalo kamu sakit gimana? apa-apa sendiri" Ibu khawatir, karena anaknya ada sakit paru-paru dan kalo kambuh pasti butuh Ibu buat ngerawat dan nemenin.
Tapi aku coba yakinin Ibu dan Bapak, sampe akhirnya aku diijinin untuk berangkat ke Solo bareng 2 temen sekolahku, untuk ikut tes masuk UMS. Masih inget banget kami naik kereta ekonomi jam 11 malem, harga tiket Rp80.000 dengan tulisan "tanpa tempat duduk". Kereta yang awal berangkatnya dari Jakarta, tentu aja sampe Cirebon udah penuh banget. Dan masa itu kereta ekonomi belum serapih sekarang. Begitu masuk gerbong kami kaget karena penuh banget ama manusia. Ada yang duduk bahkan tiduran di bawah, di kolong-kolong kursi, dengan atau tanpa alas. Kami berdiri dan duduk gantian di lorong kereta karena gak dapet kursi. Kadang juga ketiduran dan tiba-tiba kebangun karena ada yang lewat sambil ngelangkahin badan kami.
Sampe di Solo rasanya seneng, tenang, excited banget. Datang ke satu tempat baru yang belum pernah kita tau sebelumnya. Begitu turun dari kereta, kami mampir di pom bensin depan stasiun, untuk sekedar bersih-bersih dan ganti baju. Abis itu lanjut naik bis dalem kota dan turun di halte seberang univ. Wah gak nyangka bisa sampe sini! Sampe depan univ kira-kira jam 7 pagi. Kami langsung cari sarapan dan soto jadi pilihan. Kira-kira jam 8 kami ke kampus untuk daftar tes masuk. Awalnya kami kira hari itu daftar doang, tes mungkin baru dilaksanain besok harinya. Tapi ternyata enggak. Begitu daftar, kami langsung diarahin ke lantai 2 gedung untuk ngantri. Di dalem ruangan tes AC nya dingin banget. Matak ngantuk karena begadang di kereta, ditambah soal-soal tes masuk yang banyak bikin pusing dan aku gak tau jawabannya. Sempet ketiduran saking enaknya di ruangan ber AC. Sekali daftar kami dikasih 3x kesempatan tes. Kalo gagal semua, ya harus daftar lagi. Alhamdulillah aku lolos dalam 1x ujian. Sedangkan temen-temenku gak ada yang lolos samasekali walaupun udah 3x tes. Akhirnya keinginan untuk kuliah di luar kota Allah kabulkan. Bahkan jauh banget dari ekspektasi waktu itu. Kota Solo, yang bahkan gak pernah terpikir untuk bisa dateng kesini tanpa orang tua. UMS, yang bahkan gak pernah tau univ itu kalo Hana gak cerita. Dan dengan izin Allah, orang tua yang awalnya berat untuk ngelepas anak gadisnya ngerantau, akhirnya luluh juga.
Kali kedua aku kesolo sama Bapak, sekian bulan kemudian setelah tes masuk. Kami datang untuk daftar ulang, juga cari-cari tempat tinggal. Waktu itu udah minat untuk tinggal di Pesma (Pesantren Mahasiswa), karena ada kakak kelas juga yang tinggal disana. Apalagi uang bulanannya cukup murah dibanding ngekost. Lingkungannya aman dan baik untuk cari ilmu, dapet makan rutin, dapet kelas malam dan sebagainya. Kali ketiga aku kesolo bareng Bapak dan Ibu untuk nganter aku pindahan. Gak ngerti lagi senengnya waktu itu, walaupun pasti sedih karena harus pisah sama orang tua. Ngeliat mereka pulang balik ke Cirebon berdua, dan ninggalin anak gadisnya di tempat antah berantah dengan jarak ratusan kilometer. Ninggalin harap supaya kelak anaknya bisa jadi orang yang solehah dan berguna bagi banyak orang.
Perjalanan pertama kali ke Solo jadi kenangan banget, betapa takdir Allah tuh seru ya. Sejak pertama nginjekin kaki di Solo udah nyaman dengan suasananya, orang-orangnya. Apalagi waktu udah mulai kuliah. Ah rasanya ada di tempat baru tuh kaya jadi pribadi baru lagi. Sampe 4,5 tahun masa kuliah disini, samasekali gak pernah nyesel ambil pilihan kuliah di Solo. Allah nempatin aku di sebaik-baik tempat dan lingkungan. Disini jadi titik awal aku hijrah dari diriku yang sebelumnya, mulai paham banyak tentang agama, mulai ketemu ikhwah yang saling mendukung dalam kebaikan, mulai ikut banyak kajian, mulai nyibukin diri sama hal-hal yang bermanfaat, juga mulai ninggalin banyak kebiasaan-kebiasaan buruk.
Solo jadi saksi perubahan diri yang juga ngerubah cara hidup aku selama ini. Tentunya keluarga apalagi temen-temen cukup kaget sama perubahanku waktu itu. Ada yang nyinyir, ada yang khawatir, ada yang ikut seneng, macem-macemlah. Tapi makin lama aku makin cuek sama apa yang orang bilang. Didenger sih pasti, tapi langsung difilter mana omongan yang baik dan bisa membaikkan, juga mana omongan yang cuma nyinyir doang dan gak ada manfaatnya. Solo jadi rumah kedua setelah Cirebon. Setelah hampir 10 tahun berlalu, Solo masih tetep mempesona dengan apa adanya Solo. Emang makin banyak pembangunan dan perubahan, tapi sama sekali nggak ngerubah jati diri kota Solo itu sendiri sebagai kota keraton yang ramah dan ngangeni. Yang belum pernah ke Solo, wajib banget kesini. Rasain sensasinya mencintai tempat baru, dan merindukannya saat kamu udah gak disini.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Waktu lagi asik main warnet, buka-buka sosial media pada jamannya, tiba-tiba satu chat masuk dari temen sekolah yang gak akrab-akrab banget.
"Im, kamu lanjut kemana? Kuliah apa kerja?" Tanya Hana, mantan sekretaris waktu aku jadi ketua murid di kelas 11.
"Belum tau Na, maunya sih kuliah. Ini masih nyari-nyari" jawabku yang emang masih bingung mau kuliah dimana.
"Sini im ke Solo aja, aku lanjut di solo udah keterima..di UMS" Waduh Solo jauh banget, kesana juga belum pernah, pikirku.
"Wah selamat ya Na... coba aku liat-liat dulu tentang UMS, soalnya aku belum tau Na."
Aku buka tab baru, dan langsung ngetik: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Setelah tau sedikit banyak tentang UMS, sampe rumah aku cerita ke Ibu Bapak dan ngajuin keinginan untuk lanjut kuliah disana. Tapi mereka gak setuju.
"Aduh jauh banget. Nanti susah pulangnya, nanti kalo kamu sakit gimana? apa-apa sendiri" Ibu khawatir, karena anaknya ada sakit paru-paru dan kalo kambuh pasti butuh Ibu buat ngerawat dan nemenin.
Tapi aku coba yakinin Ibu dan Bapak, sampe akhirnya aku diijinin untuk berangkat ke Solo bareng 2 temen sekolahku, untuk ikut tes masuk UMS. Masih inget banget kami naik kereta ekonomi jam 11 malem, harga tiket Rp80.000 dengan tulisan "tanpa tempat duduk". Kereta yang awal berangkatnya dari Jakarta, tentu aja sampe Cirebon udah penuh banget. Dan masa itu kereta ekonomi belum serapih sekarang. Begitu masuk gerbong kami kaget karena penuh banget ama manusia. Ada yang duduk bahkan tiduran di bawah, di kolong-kolong kursi, dengan atau tanpa alas. Kami berdiri dan duduk gantian di lorong kereta karena gak dapet kursi. Kadang juga ketiduran dan tiba-tiba kebangun karena ada yang lewat sambil ngelangkahin badan kami.
Sampe di Solo rasanya seneng, tenang, excited banget. Datang ke satu tempat baru yang belum pernah kita tau sebelumnya. Begitu turun dari kereta, kami mampir di pom bensin depan stasiun, untuk sekedar bersih-bersih dan ganti baju. Abis itu lanjut naik bis dalem kota dan turun di halte seberang univ. Wah gak nyangka bisa sampe sini! Sampe depan univ kira-kira jam 7 pagi. Kami langsung cari sarapan dan soto jadi pilihan. Kira-kira jam 8 kami ke kampus untuk daftar tes masuk. Awalnya kami kira hari itu daftar doang, tes mungkin baru dilaksanain besok harinya. Tapi ternyata enggak. Begitu daftar, kami langsung diarahin ke lantai 2 gedung untuk ngantri. Di dalem ruangan tes AC nya dingin banget. Matak ngantuk karena begadang di kereta, ditambah soal-soal tes masuk yang banyak bikin pusing dan aku gak tau jawabannya. Sempet ketiduran saking enaknya di ruangan ber AC. Sekali daftar kami dikasih 3x kesempatan tes. Kalo gagal semua, ya harus daftar lagi. Alhamdulillah aku lolos dalam 1x ujian. Sedangkan temen-temenku gak ada yang lolos samasekali walaupun udah 3x tes. Akhirnya keinginan untuk kuliah di luar kota Allah kabulkan. Bahkan jauh banget dari ekspektasi waktu itu. Kota Solo, yang bahkan gak pernah terpikir untuk bisa dateng kesini tanpa orang tua. UMS, yang bahkan gak pernah tau univ itu kalo Hana gak cerita. Dan dengan izin Allah, orang tua yang awalnya berat untuk ngelepas anak gadisnya ngerantau, akhirnya luluh juga.
Kali kedua aku kesolo sama Bapak, sekian bulan kemudian setelah tes masuk. Kami datang untuk daftar ulang, juga cari-cari tempat tinggal. Waktu itu udah minat untuk tinggal di Pesma (Pesantren Mahasiswa), karena ada kakak kelas juga yang tinggal disana. Apalagi uang bulanannya cukup murah dibanding ngekost. Lingkungannya aman dan baik untuk cari ilmu, dapet makan rutin, dapet kelas malam dan sebagainya. Kali ketiga aku kesolo bareng Bapak dan Ibu untuk nganter aku pindahan. Gak ngerti lagi senengnya waktu itu, walaupun pasti sedih karena harus pisah sama orang tua. Ngeliat mereka pulang balik ke Cirebon berdua, dan ninggalin anak gadisnya di tempat antah berantah dengan jarak ratusan kilometer. Ninggalin harap supaya kelak anaknya bisa jadi orang yang solehah dan berguna bagi banyak orang.
Perjalanan pertama kali ke Solo jadi kenangan banget, betapa takdir Allah tuh seru ya. Sejak pertama nginjekin kaki di Solo udah nyaman dengan suasananya, orang-orangnya. Apalagi waktu udah mulai kuliah. Ah rasanya ada di tempat baru tuh kaya jadi pribadi baru lagi. Sampe 4,5 tahun masa kuliah disini, samasekali gak pernah nyesel ambil pilihan kuliah di Solo. Allah nempatin aku di sebaik-baik tempat dan lingkungan. Disini jadi titik awal aku hijrah dari diriku yang sebelumnya, mulai paham banyak tentang agama, mulai ketemu ikhwah yang saling mendukung dalam kebaikan, mulai ikut banyak kajian, mulai nyibukin diri sama hal-hal yang bermanfaat, juga mulai ninggalin banyak kebiasaan-kebiasaan buruk.
Solo jadi saksi perubahan diri yang juga ngerubah cara hidup aku selama ini. Tentunya keluarga apalagi temen-temen cukup kaget sama perubahanku waktu itu. Ada yang nyinyir, ada yang khawatir, ada yang ikut seneng, macem-macemlah. Tapi makin lama aku makin cuek sama apa yang orang bilang. Didenger sih pasti, tapi langsung difilter mana omongan yang baik dan bisa membaikkan, juga mana omongan yang cuma nyinyir doang dan gak ada manfaatnya. Solo jadi rumah kedua setelah Cirebon. Setelah hampir 10 tahun berlalu, Solo masih tetep mempesona dengan apa adanya Solo. Emang makin banyak pembangunan dan perubahan, tapi sama sekali nggak ngerubah jati diri kota Solo itu sendiri sebagai kota keraton yang ramah dan ngangeni. Yang belum pernah ke Solo, wajib banget kesini. Rasain sensasinya mencintai tempat baru, dan merindukannya saat kamu udah gak disini.
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Gugur
Akhir Juli 2018.
Aku dan 2 orang sahabat mulai merencanakan warna baju yang akan kami gunakan di acara pernikahan teman tanggal 4 Agustus nanti. Acara ini akan menjadi ajang reuni bagi kami bertiga yang selama ini terpisah kota. Aku di solo, Fina di Boyolali, sedangkan Bekti di Temanggung. Itulah kenapa kami sangat bersemangat untuk hadir di acara ini, selain karena kedua mempelai adalah teman kuliah kami. Hasil diskusi memutuskan biru dongker akan menjadi warna outfit kami. Pilihanku pun jatuh pada gamis biru dongker berbahan maxmara dengan motif ranting berwarna pink. Cantik sekali. Tidak sabar aku ingin memakainya untuk bertemu dengan teman-teman nanti.
Jumat 3 Agustus 2018.
Sore itu jadwal periksa kehamilan keduaku yang belum genap 3 bulan. Setelah melakukan anamnesis dan USG, dokter menemukan bahwa janinku tidak berkembang. Aku didiagnosa mengalami blighted ovum dan harus melakukan kuretase. Hancur hatiku pasti, sedih, marah, takut, menyesal semua campur aduk jadi satu. Tapi aku harus berusaha tegar di depan dokter dan suamiku. Saat itu dokter memberikan 2 pilihan jadwal kuretase, Sabtu keesokan pagi atau menunggu hingga Senin nanti. Akhirnya aku dan suami memilih sabtu pagi untuk dilakukan kuret, meskipun pilihan yang berat bagiku karena hari itu adalah hari pernikahan teman yang aku tunggu-tunggu. Aku keluar dari ruang dokter dengan hati dan pikiran yang kacau. Sesak di dada dan butiran airmata berdesakan ingin keluar. Aku duduk di depan apotek dengan tatapan kosong, sembari menunggu resepku selesai dikerjakan. Suamiku berusaha menguatkan dan menghibur, aku hanya menjawab "nggak papa". Padahal hati berkecamuk tidak karuan. Aku masih bisa menahan tangis selama perjalanan pulang sampai ke rumah, hingga saat kami masuk ke dalam kamar, tangisku pecah di pelukan suamiku. Kami berdialog dan saling menenangkan.
Malam itu aku bingung, tidak tau harus beralasan apa pada Fina dan Bekti karena tidak jadi hadir esok hari. Apalagi mereka belum tau kalau saat itu aku sedang hamil. Rencananya aku akan memberitau mereka saat bertemu, karena memang aku tipe orang yang jarang bercerita bahkan pada sahabat sendiri. Saat itupun tidak banyak orang yang tau tentang kehamilanku. Akhirnya setelah berpikir panjang, aku kirim chat di grup whattsapp kami. Ijin tidak jadi datang karena sakit, memohon maaf serta minta dido'akan oleh mereka untuk kesehatanku. Pastinya saat itu mereka kaget dan penasaran, kenapa tiba-tiba sekali? Tapi aku masih berusaha tutupi. Esoknya pagi-pagi sekali aku dan suami bersiap ke rumah sakit. Ibrahim anak pertamaku yang belum genap 2 tahun kutitipkan pada adik ipar yang saat itu memang tinggal bersama kami. Alhamdulillah selama ditinggal sejak pagi buta hingga sore hari Ibrahim tidak rewel sama sekali. Salah satu kemudahan dari Allah untuk hari yang cukup sulit ini. Proses kuret selesai kira-kira sebelum dzuhur. Aku pindah ke bangsal dan diizinkan pulang ke rumah sore nanti.
Fina dan Bekti terus menghubungiku sejak pagi, menanyakan kabar dan mengirim foto-foto acara resepsi pernikahan teman kami. Mereka berpose dengan pengantin juga dengan teman-teman seangkatan yang hadir. Sedih rasanya tidak jadi berada disana bersama mereka, batal memakai gamis biru dongker yang sudah kami rencanakan. Setelah didesak, akhirnya aku mengijinkan mereka datang ke rumah sakit tanpa memberitau apa sakitku saat itu. Kira-kira sebelum ashar mereka sampai, kami melepas rindu dan bercerita banyak hal. Disanalah aku baru berterus terang tentang apa yang terjadi padaku. Mereka turut sedih dan mendo'akan yang terbaik untukku. Alhamdulillah meski sangat singkat, tapi Allah masih menghendaki kami bertiga berkumpul hari itu di tempat yang tidak pernah kami bayangkan. Sahabat-sahabat yang hadir menguatkan dan menghibur disaat aku butuh, membuatku sedikit melupakan kesedihan dan kesakitan yang ku rasa saat itu.
Gagalnya kehamilanku pelan-pelan membuat aku belajar banyak hal.
1. Tentang penerimaan takdir, sekuat dan sehebat apapun diri ini merencanakan dan menjaga kesehatan janin, tapi saat Allah berkehendak lain, maka aku harus menerima kehendak Allah dengan hati yang lapang, merelakan janin itu kembali pada pemiliknya.
2. Tentang muhasabah diri, bahwa kejadian ini mungkin diakibatkan oleh banyaknya dosaku di masa lalu, maka dengan adanya musibah ini aku bermuhasabah, lalu memohon ampun pada Allah atas banyaknya laku yang keliru. Semoga dengan adanya kejadian ini, Allah membersihkan dosa-dosaku.
3. Tentang khusnudzon pada Allah, disaat kondisi sedang down seperti saat ini, dimana hati dan pikiran sedih, kacau, maka setan sangat mudah merasuk dan membisiki hal-hal yang membuat kita berprasangka buruk pada Allah. Maka aku berusaha menepis itu semua, percaya bahwa ini hanya sedikit ujian untuk perbaikan keimananku, dan yakin bahwa Allah sedang menyiapkan takdir yang lebih indah dari ini semua.
4. Tentang tidak berputus asa, tentunya ada sedikit trauma dengan kehamilan setelah kejadian ini. Ketakutan dan kekhawatiran, juga putus asa bahwa diri ini tidak pantas diamanahi anak lagi. Tapi aku belajar bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah yang Maha Luas. Yang terpenting adalah kita terus berdoa dan berusaha, memantaskan kembali diri ini agar Allah cintai dan kelak menitipkan kembali seorang anak yang soleh dan solehah untuk keluarga kami.
5. Tentang rencana dan takdir, seperti yang banyak sekali dituliskan, bahwa sebaik-baiknya rencana manusia, tetap takdir Allah yang paling baik. Manusia bisa berencana, Allah yang menentukan akhirnya. Maka kita sebagai manusia harus selalu bersiap dengan kejutan-kejutan hidup lainnya. Tetap semangat dalam merencanakan hal-hal baik, tapi siapkan juga hati untuk menerima apapun takdir terbaik dari Allah nantinya.
Dua tahun berlalu... aku masih terus berdo'a, berusaha, dan berharap kepada Allah agar bisa kembali dipercaya mengurus amanah dari-Nya. Usia Ibrahim kini sudah hampir 4 tahun, ia seringkali berkata "Aa ga ada temen di rumah" atau berdo'a "semoga Aa dikasih dede". Mendengar itu aku terharu, semoga Allah mengijabah do'a-do'a kami di waktu terbaik menurutNya. Setelah sekian lama akhirnya ku tulis kisah ini. Semoga terus menjadi pengingat diri, semoga ada sedikit kebaikan yang bisa diambil untuk menjadi manfaat bagi orang lain yang membacanya...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Aku dan 2 orang sahabat mulai merencanakan warna baju yang akan kami gunakan di acara pernikahan teman tanggal 4 Agustus nanti. Acara ini akan menjadi ajang reuni bagi kami bertiga yang selama ini terpisah kota. Aku di solo, Fina di Boyolali, sedangkan Bekti di Temanggung. Itulah kenapa kami sangat bersemangat untuk hadir di acara ini, selain karena kedua mempelai adalah teman kuliah kami. Hasil diskusi memutuskan biru dongker akan menjadi warna outfit kami. Pilihanku pun jatuh pada gamis biru dongker berbahan maxmara dengan motif ranting berwarna pink. Cantik sekali. Tidak sabar aku ingin memakainya untuk bertemu dengan teman-teman nanti.
Jumat 3 Agustus 2018.
Sore itu jadwal periksa kehamilan keduaku yang belum genap 3 bulan. Setelah melakukan anamnesis dan USG, dokter menemukan bahwa janinku tidak berkembang. Aku didiagnosa mengalami blighted ovum dan harus melakukan kuretase. Hancur hatiku pasti, sedih, marah, takut, menyesal semua campur aduk jadi satu. Tapi aku harus berusaha tegar di depan dokter dan suamiku. Saat itu dokter memberikan 2 pilihan jadwal kuretase, Sabtu keesokan pagi atau menunggu hingga Senin nanti. Akhirnya aku dan suami memilih sabtu pagi untuk dilakukan kuret, meskipun pilihan yang berat bagiku karena hari itu adalah hari pernikahan teman yang aku tunggu-tunggu. Aku keluar dari ruang dokter dengan hati dan pikiran yang kacau. Sesak di dada dan butiran airmata berdesakan ingin keluar. Aku duduk di depan apotek dengan tatapan kosong, sembari menunggu resepku selesai dikerjakan. Suamiku berusaha menguatkan dan menghibur, aku hanya menjawab "nggak papa". Padahal hati berkecamuk tidak karuan. Aku masih bisa menahan tangis selama perjalanan pulang sampai ke rumah, hingga saat kami masuk ke dalam kamar, tangisku pecah di pelukan suamiku. Kami berdialog dan saling menenangkan.
Malam itu aku bingung, tidak tau harus beralasan apa pada Fina dan Bekti karena tidak jadi hadir esok hari. Apalagi mereka belum tau kalau saat itu aku sedang hamil. Rencananya aku akan memberitau mereka saat bertemu, karena memang aku tipe orang yang jarang bercerita bahkan pada sahabat sendiri. Saat itupun tidak banyak orang yang tau tentang kehamilanku. Akhirnya setelah berpikir panjang, aku kirim chat di grup whattsapp kami. Ijin tidak jadi datang karena sakit, memohon maaf serta minta dido'akan oleh mereka untuk kesehatanku. Pastinya saat itu mereka kaget dan penasaran, kenapa tiba-tiba sekali? Tapi aku masih berusaha tutupi. Esoknya pagi-pagi sekali aku dan suami bersiap ke rumah sakit. Ibrahim anak pertamaku yang belum genap 2 tahun kutitipkan pada adik ipar yang saat itu memang tinggal bersama kami. Alhamdulillah selama ditinggal sejak pagi buta hingga sore hari Ibrahim tidak rewel sama sekali. Salah satu kemudahan dari Allah untuk hari yang cukup sulit ini. Proses kuret selesai kira-kira sebelum dzuhur. Aku pindah ke bangsal dan diizinkan pulang ke rumah sore nanti.
Fina dan Bekti terus menghubungiku sejak pagi, menanyakan kabar dan mengirim foto-foto acara resepsi pernikahan teman kami. Mereka berpose dengan pengantin juga dengan teman-teman seangkatan yang hadir. Sedih rasanya tidak jadi berada disana bersama mereka, batal memakai gamis biru dongker yang sudah kami rencanakan. Setelah didesak, akhirnya aku mengijinkan mereka datang ke rumah sakit tanpa memberitau apa sakitku saat itu. Kira-kira sebelum ashar mereka sampai, kami melepas rindu dan bercerita banyak hal. Disanalah aku baru berterus terang tentang apa yang terjadi padaku. Mereka turut sedih dan mendo'akan yang terbaik untukku. Alhamdulillah meski sangat singkat, tapi Allah masih menghendaki kami bertiga berkumpul hari itu di tempat yang tidak pernah kami bayangkan. Sahabat-sahabat yang hadir menguatkan dan menghibur disaat aku butuh, membuatku sedikit melupakan kesedihan dan kesakitan yang ku rasa saat itu.
Gagalnya kehamilanku pelan-pelan membuat aku belajar banyak hal.
1. Tentang penerimaan takdir, sekuat dan sehebat apapun diri ini merencanakan dan menjaga kesehatan janin, tapi saat Allah berkehendak lain, maka aku harus menerima kehendak Allah dengan hati yang lapang, merelakan janin itu kembali pada pemiliknya.
2. Tentang muhasabah diri, bahwa kejadian ini mungkin diakibatkan oleh banyaknya dosaku di masa lalu, maka dengan adanya musibah ini aku bermuhasabah, lalu memohon ampun pada Allah atas banyaknya laku yang keliru. Semoga dengan adanya kejadian ini, Allah membersihkan dosa-dosaku.
3. Tentang khusnudzon pada Allah, disaat kondisi sedang down seperti saat ini, dimana hati dan pikiran sedih, kacau, maka setan sangat mudah merasuk dan membisiki hal-hal yang membuat kita berprasangka buruk pada Allah. Maka aku berusaha menepis itu semua, percaya bahwa ini hanya sedikit ujian untuk perbaikan keimananku, dan yakin bahwa Allah sedang menyiapkan takdir yang lebih indah dari ini semua.
4. Tentang tidak berputus asa, tentunya ada sedikit trauma dengan kehamilan setelah kejadian ini. Ketakutan dan kekhawatiran, juga putus asa bahwa diri ini tidak pantas diamanahi anak lagi. Tapi aku belajar bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah yang Maha Luas. Yang terpenting adalah kita terus berdoa dan berusaha, memantaskan kembali diri ini agar Allah cintai dan kelak menitipkan kembali seorang anak yang soleh dan solehah untuk keluarga kami.
5. Tentang rencana dan takdir, seperti yang banyak sekali dituliskan, bahwa sebaik-baiknya rencana manusia, tetap takdir Allah yang paling baik. Manusia bisa berencana, Allah yang menentukan akhirnya. Maka kita sebagai manusia harus selalu bersiap dengan kejutan-kejutan hidup lainnya. Tetap semangat dalam merencanakan hal-hal baik, tapi siapkan juga hati untuk menerima apapun takdir terbaik dari Allah nantinya.
Dua tahun berlalu... aku masih terus berdo'a, berusaha, dan berharap kepada Allah agar bisa kembali dipercaya mengurus amanah dari-Nya. Usia Ibrahim kini sudah hampir 4 tahun, ia seringkali berkata "Aa ga ada temen di rumah" atau berdo'a "semoga Aa dikasih dede". Mendengar itu aku terharu, semoga Allah mengijabah do'a-do'a kami di waktu terbaik menurutNya. Setelah sekian lama akhirnya ku tulis kisah ini. Semoga terus menjadi pengingat diri, semoga ada sedikit kebaikan yang bisa diambil untuk menjadi manfaat bagi orang lain yang membacanya...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Curhat
"Im mau cerita dong"
"Teteh aku boleh minta nasehat kah?"
"Mba ntar ketemu aku mau curhat ya"
"Mi lagi sibuk ga? Aku mau tanya-tanya"
Beberapa chat dari temen-temen yang sedang punya masalah atau sekedar kegalauan hati. Setelah dipersilakan, mereka akan curhat panjang lebar. Ada yang galau belum ketemu jodoh, ada yang macet waktu ta'aruf, ada yang masalah sama keuangan rumah tangga, ada yang diselingkuhin suami, ada yang berantem sama abangnya dan banyak lagi cerita lainnya. Pernah mikir, kenapa ya Allah ngarahin hati orang-orang itu untuk cerita ke diri ini? Padahal soal ilmu? Cetek bener. Pengalaman? Nol koma. Solusi? Boro-boro. Masalah sendiri aja gak nemu-nemu solusinya. Hehe.
Tapi setelah nyimak banyak banget cerita dan curhatan orang-orang yang beragam, berusaha filter ilmu dan hikmahnya, ngeliat jauh ke dalam diri, baru deh ketemu jawabannya.
Ooh... ternyata Allah gak ngirim mereka datang untuk curhat doang.
Ooh... ternyata bukan mereka yang butuh solusi, tapi diri ini yang butuh hikmah.
Ooh... Allah tau kalo diri ini masih kurang banyak ilmu, makanya Allah datangkan orang-orang hebat yang sedang diuji itu, untuk sekedar cerita dan kasih banyak pelajaran yang berharga. Selain itu, Allah juga tau kalo diri ini tipe yang gak suka curhat sama orang lain. Jadi mungkin lewat cerita-cerita mereka Allah mau kasih healing, supaya diri ini lebih banyak bersabar dengan segala masalah dan bersyukur dengan setiap nikmat yang Allah beri.
Ada satu temen sebut aja Mamak, yang cerita tentang pengkhianatan temen-temennya ke dia. Mamak dan suaminya yang baik banget sama semua orang, ternyata malah dijahatin sama orang-orang yang selama ini mereka pikir temen deket, sahabat, bahkan udah mereka anggap keluarga sendiri. Pelajaran yang didapet dari cerita ini? Banyak masya Allah. Tentang berbuat baik dimanapun, kapanpun dan sama siapapun, tentang kebaikan yang gak ngarepin balesan, tentang bagaimana menjadi teman yang baik, tentang pentingnya komunikasi, tentang balas budi kebaikan dan sebagainya. Selain itu diri juga jadi lebih bersyukur, Ya Allah alhamdulillah gak punya temen-temen yang dzolim kaya gitu. Ya Allah alhamdulillah dengan temen-temen yang ada saat ini. Begitu pula waktu denger cerita tentang istri yang diselingkuhi suaminya, diri ini langsung istighfar dan mensyukuri suami yang ada dengan segala kekurangannya.
Selalu ada hikmah dan kebaikan kalo kita mau menggali lebih dalam tentang maksud Allah dibalik setiap kejadian. Seringkali kita kurang syukur karena ngeliat orang-orang yang serba cukup dan 'keliatan bahagia' dibanding diri kita. Seringkali juga kita jadi kurang sabar karena terlalu sibuk mikirin kekurangan-kekurangan dari apa yang kita punya. Padahal Allah udah kasih setiap nyawa porsinya masing-masing dalam hidup.
Terimakasih Allah dengan cara-Mu sudah mengizinkan dan mengirimkan mereka untuk bercerita...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
"Teteh aku boleh minta nasehat kah?"
"Mba ntar ketemu aku mau curhat ya"
"Mi lagi sibuk ga? Aku mau tanya-tanya"
Beberapa chat dari temen-temen yang sedang punya masalah atau sekedar kegalauan hati. Setelah dipersilakan, mereka akan curhat panjang lebar. Ada yang galau belum ketemu jodoh, ada yang macet waktu ta'aruf, ada yang masalah sama keuangan rumah tangga, ada yang diselingkuhin suami, ada yang berantem sama abangnya dan banyak lagi cerita lainnya. Pernah mikir, kenapa ya Allah ngarahin hati orang-orang itu untuk cerita ke diri ini? Padahal soal ilmu? Cetek bener. Pengalaman? Nol koma. Solusi? Boro-boro. Masalah sendiri aja gak nemu-nemu solusinya. Hehe.
Tapi setelah nyimak banyak banget cerita dan curhatan orang-orang yang beragam, berusaha filter ilmu dan hikmahnya, ngeliat jauh ke dalam diri, baru deh ketemu jawabannya.
Ooh... ternyata Allah gak ngirim mereka datang untuk curhat doang.
Ooh... ternyata bukan mereka yang butuh solusi, tapi diri ini yang butuh hikmah.
Ooh... Allah tau kalo diri ini masih kurang banyak ilmu, makanya Allah datangkan orang-orang hebat yang sedang diuji itu, untuk sekedar cerita dan kasih banyak pelajaran yang berharga. Selain itu, Allah juga tau kalo diri ini tipe yang gak suka curhat sama orang lain. Jadi mungkin lewat cerita-cerita mereka Allah mau kasih healing, supaya diri ini lebih banyak bersabar dengan segala masalah dan bersyukur dengan setiap nikmat yang Allah beri.
Ada satu temen sebut aja Mamak, yang cerita tentang pengkhianatan temen-temennya ke dia. Mamak dan suaminya yang baik banget sama semua orang, ternyata malah dijahatin sama orang-orang yang selama ini mereka pikir temen deket, sahabat, bahkan udah mereka anggap keluarga sendiri. Pelajaran yang didapet dari cerita ini? Banyak masya Allah. Tentang berbuat baik dimanapun, kapanpun dan sama siapapun, tentang kebaikan yang gak ngarepin balesan, tentang bagaimana menjadi teman yang baik, tentang pentingnya komunikasi, tentang balas budi kebaikan dan sebagainya. Selain itu diri juga jadi lebih bersyukur, Ya Allah alhamdulillah gak punya temen-temen yang dzolim kaya gitu. Ya Allah alhamdulillah dengan temen-temen yang ada saat ini. Begitu pula waktu denger cerita tentang istri yang diselingkuhi suaminya, diri ini langsung istighfar dan mensyukuri suami yang ada dengan segala kekurangannya.
Selalu ada hikmah dan kebaikan kalo kita mau menggali lebih dalam tentang maksud Allah dibalik setiap kejadian. Seringkali kita kurang syukur karena ngeliat orang-orang yang serba cukup dan 'keliatan bahagia' dibanding diri kita. Seringkali juga kita jadi kurang sabar karena terlalu sibuk mikirin kekurangan-kekurangan dari apa yang kita punya. Padahal Allah udah kasih setiap nyawa porsinya masing-masing dalam hidup.
Terimakasih Allah dengan cara-Mu sudah mengizinkan dan mengirimkan mereka untuk bercerita...
(Ditulis tahun 2020 di kelas @Nulisyuk batch 60)
Sabtu, 13 Desember 2025
Pak, Bu...
Seratus cahaya malam, begitu arti dari nama yang orang tuaku berikan. Mungkin mereka berharap aku bisa memiliki banyak cahaya untuk bisa menerangi jalan hidupku dan keluargaku dari saat-saat gelap yang Allah takdirkan. Tapi hingga saat ini, aku merasa belum bisa menjadi apa yang orang tuaku inginkan.
Bapakku adalah seorang guru PNS yang sederhana, sedangkan Ibu adalah gadis desa lulusan SD yang bertemu Bapak saat sedang tugas dinas di awal karir PNS nya. Mereka menikah dan dikaruniai anak pertama seorang bayi perempuan yang lucu, Lia namanya. Qaddarallah Ibu dan Bapak harus menerima kenyataan bahwa Allah lebih sayang pada Teh Lia. Allah memanggil Teh Lia pulang saat masih bayi karena sakit. Dua tahun kemudian Allah karuniakan seorang anak lelaki, Abdul Fatah. Aa Fatah tumbuh menjadi anak lelaki tampan yang baik, lucu, patuh pada orang tua, dan disenangi banyak orang. Ia menjadi pengobat bagi kehilangan yang pernah orang tuaku rasakan.
Tapi rupanya lagi-lagi Allah hendak menaikkan derajat keimanan Bapak dan Ibu. Allah memanggil Aa Fatah kembali padaNya sesaat setelah beliau dikhitan. Sejak masih kecil aku sering diperlihatkan foto Aa, dan aku pikir Aa Fatah adalah lelaki paling tampan yang aku tau saat itu. Dua tahun kemudian Allah mengganti kehilangan-kehilangan itu dengan lahirnya anak ketiga, kakak perempuanku yang kini menjadi anak sulung di keluarga kami. Kami panggil ia Teh Yanti. Teteh adalah sosok perempuan pendiam, cerdas, baik hati, tegas, ia seorang aktivis dakwah bahkan hingga sekarang saat sudah memiliki 5 orang anak. Lima tahun setelah Teteh, aku lahir. Tujuh tahun setelahnya, Allah karuniakan anak terakhir untuk Ibu dan Bapakku. Anak lelaki satu-satunya di keluarga kami.
Bapak adalah sosok yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Sejak awal mengajar, ia pulang-pergi menggunakan sepeda. Meski berkilo-kilo meter jarak antara rumah dan sekolah, ia tempuh demi mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya. Bapak baru bisa membeli motor saat anak pertamanya duduk di bangku kuliah. Sebuah honda supra bekas yang Bapak beli melalui tetangga, cash tanpa mencicil atau berhutang. Yang bahkan setelah belasan tahun lamanya, motor itu masih Bapak pakai sampai sekarang. Di mata murid-muridnya Bapak adalah sosok guru yang tegas, galak lebih tepatnya. Tapi di mata teman-temannya, Bapak adalah kawan yang jail dan kocak. Bapak sering melucu meski kadang tidak lucu. Sampai saat inipun masih begitu.
Ibu adalah sosok gadis desa yang polos asal Purwakarta. Ibu tumbuh dengan didikan keras ala orang desa pada jamannya. Orang tua Ibu bercerai saat beliau masih kecil, yang akhirnya memaksa Ibu untuk bekerja keras memenuhi kebutuhannya sendiri. Ibu bekerja sebagai pemecah batu di sungai dengan upah ala kadarnya. Seringkali ia harus melakukan ini dan itu untuk sekedar mendapatkan makan. Ibu rela diboyong Bapak ke Cirebon tanpa tau Cirebon itu dimana dan bagaimana. Ibu adalah perempuan yang kuat, ia sering memendam kesakitannya lalu menangis seorang diri. Ibu adalah perempuan dermawan dan senang membantu kerabat maupun teman-temannya. Sejak kecil yang paling aku ingat dari Ibu adalah Ibu rajin sekali sholat. Sejak subuh, pagi hari, siang terik, sore hari, malam gelap, bahkan saat semua orang sudah lelap tertidur, aku selalu melihat Ibu sedang sholat. Entah itu sholat wajib atau berbagai sholat sunnah yang Ibu amalkan.
Sosok Bapak dan Ibu dengan berbagai latar belakang dan perjuangannya sejak kecil, memberi kekuatan baru untuk diriku juga anak-anak mereka yang lain. Mereka adalah inspirasi dan pelajaran bagi kami dalam menjalani kehidupan. Pola pengasuhan mereka, kurang dan lebihnya menjadi gambaran untuk aku dan Teteh dalam mendidik anak. Semoga Ibu dan Bapak diberi keberkahan usia, disayang Allah, disehatkan dan dibahagiakan selalu hingga Allah memanggil mereka dalam husnul khotimah.
Langganan:
Komentar (Atom)
Keputusan
Aku berdiri di depan gerbang ungu sebuah tempat konseling psikolog. Melihat papan namanya aku yakin inilah tempatnya. Kemudian aku bawa ampl...
-
Seringkali manusia tidak sekuat itu untuk tetap menjadi teman setelah perasaannya terluka.ㅤㅤㅤㅤ Beberapa memilih berdamai dengan diri dan kea...
-
Bismillaahirrohmaanirrohiim... Akhir shofar 1437 H Aku terpaksa menelan pahitnya ucapan selamat tinggal... Pahit sekali…...
-
Bismillaahirrohmaanirrohiim Sahabat hilang. Sahabat datang. Jauh, lama dalam keragu-raguan. Bersinar, Mered u p, terus berganti...
